Mentan Pastikan Belum Ada Laporan Beras Rusak di Gudang Bulog
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan hingga kini pihaknya belum menerima laporan mengenai beras rusak di gudang Perum Bulog.
“Kami belum terima laporan soal adanya beras rusak di gudang Bulog,” ujar Mentan seusai penandatanganan MoU dengan Menteri Pertanian Palestina Rezq Basheer-Salimia di Jakarta, Senin (7/7).
Ia menyebut telah meminta Bulog segera melaporkan jika ditemukan indikasi kerusakan, namun hingga saat ini belum ada informasi resmi yang diterima Kementerian Pertanian.
“Kami sudah desak Bulog, tapi sampai hari ini belum ada laporan,” tambahnya.
Menurut informasi sementara, kondisi beras di gudang Bulog dilaporkan masih baik dan layak konsumsi sesuai standar penyimpanan pangan nasional.
“Laporannya, beras di sana baik-baik saja,” ucap Mentan.
Mentan memastikan beras stok lama akan tersalurkan seluruhnya pada akhir 2025, seiring kekhawatiran mengenai kualitasnya.
Dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (2/7), Amran menjelaskan dari total 1,7 juta ton stok lama, 1,5 juta ton akan segera dikeluarkan.
Sebanyak 360 ribu ton akan disalurkan untuk bantuan sosial (bansos), sedangkan 1,2 juta ton dialokasikan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Amran menargetkan penyaluran beras bansos rampung pada Juni–Juli, sementara SPHP berlangsung hingga Desember.
“Insyaallah akhir tahun, semua beras di gudang sudah menjadi beras baru,” katanya.
Ia menjelaskan sebagian stok beras lama masih dalam kondisi baik karena merupakan beras impor yang masuk pada Desember tahun lalu hingga Januari.
Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) menyampaikan kekhawatiran atas kualitas beras yang terlalu lama disimpan di gudang.
Ia mengungkap adanya temuan kutu putih pada beras yang telah disimpan lebih dari 10 bulan, dan meminta stok lama segera didistribusikan agar kualitas tidak semakin turun.
“Walaupun kutu bukan kutu hitam, tapi tetap saja itu bukan beras fresh,” ujar Titiek.
“Kalau impor masuk Oktober, berarti sudah 10 bulan di gudang, bahkan mungkin setahun. Saya rasa harus segera diambil tindakan,” tegasnya.

