Mentan Pecat Staf Pemalak Petani, Serahkan Kasus ke Polisi
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengambil langkah tegas dengan memberhentikan seorang staf Kementerian Pertanian yang memalak petani hingga ratusan juta rupiah demi mendapatkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan). Oknum tersebut bahkan mengaku sebagai direktur jenderal saat beraksi.
Dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat, Amran menyebut keputusan itu berat namun harus diambil demi menjaga integritas kementerian.
“‘Lapor Pak Amran’ membuahkan hasil. Ada traktor di 99 titik. Setiap (petani) ‘ngambil’ traktor itu (oknum staf minta) bayar. Padahal itu gratis untuk rakyat. Ada pegawai Kementerian (Pertanian), ya… diberhentikan, apa boleh buat,” kata Amran.
Ia menjelaskan laporan masyarakat menunjukkan adanya pungutan Rp50 juta hingga Rp600 juta untuk pengambilan alsintan di berbagai daerah. Seluruh berkas kini diserahkan ke kepolisian.
“Langsung tindaklanjuti kalau perlu bawa, periksa hari ini. Dan Pak Sekjen, berhentikan (staf) di kementerian. Enggak boleh. Saya sudah bilang, jangan macam-macam. Aku dapat, pasti saya pecat,” ujarnya.
Amran menegaskan pemerasan terhadap petani adalah tindakan tidak manusiawi, terlebih bantuan alsintan, benih, dan bibit merupakan program gratis bernilai triliunan rupiah. Ia juga menyebut banyak pelaku berasal dari luar kementerian.
“Pelakunya dari (Kementerian) Pertanian satu. Dari luar lebih banyak. Dan aku berhentikan hari ini (yang dari Kementerian Pertanian),” katanya.
Dari 99 titik yang teridentifikasi, tiap titik melibatkan beberapa penerima, sehingga potensi kerugian sangat besar. Amran menyampaikan apresiasi atas keberanian masyarakat melapor. Dari 2.890 laporan yang masuk dalam sepekan, 504 telah diverifikasi dan menjadi dasar penindakan.
Ia menegaskan identitas pelapor dijamin kerahasiaannya. “Hanya saya dan satu asisten pribadi yang tahu,” katanya.
Oknum Kementan yang dipecat diketahui bertugas di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, namun kerap mengaku sebagai dirjen. Amran mengatakan pelaku sudah mengaku berkali-kali menerima uang.
“Dia masih muda. Aku tanya, dia langsung nangis. Nih, kamu ambil uang enggak? ‘Iya, Pak, khilaf.’ Bagaimana khilaf? Bolak-balik ambil uang. Petani itu sudah sulit hidupnya, jangan dibikin berat,” ujar Amran.
Ia menambahkan seluruh proses selanjutnya ditangani penyidik, sementara pelaku dari luar kementerian terus diburu. Amran menegaskan komitmen membersihkan praktik kecurangan demi memastikan bantuan tepat sasaran dan melindungi petani sebagai pilar ketahanan pangan nasional.

