Fasilitasi Pendidikan Penghayat Kepercayaan, Pemkab Semarang Gandeng Pihak Ketiga

Bagikan:
Warga Penghayat Kepercayaan Sapta Darma di Kabupaten Semarang, tengah melakukan kegiatan kerohanian rutin
Reporter: Ardan Tama
Mediatama, Ungaran – Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora) Kabupaten Semarang, memfasilitasi kegiatan belajar mengajar anak-anak para penghayat di sekolah.
Kepala Disdikbudpora Dewi Pramuningsih mengungkapkan, saat ini bentuk fasilitas tersebut yaitu menyediakan guru untuk masing-masing penghayat di sekolah.
“Untuk keberadaan penghayat di sekolah memang tidak begitu banyak, artinya baru bisa dihitung dengan jari, ujar Dewi, Selasa (28/11).
Dijelaskan Dewi, selama ini penanganan khusus untuk pendidikan mata pelajaran Penghayat Kepercayaan bekerjasama dengan kelompok yang ada disekitar. Hal ini dikarenakan Pemkab Semarang belum memiliki guru khusus yang menangani hal itu.
“Misalnya jika siswa penghayat tersebut sekolah di Kecamatan Getasan, maka kita ambilkan guru khusus penghayat dari tokoh penghayat yang ada di Kecamatan Getasan,” ujarnya.
Tugas yang dilakukan juga sama dengan yang dilakukan guru agama pada umumnya, dimana memberikan ilmu serta pendalaman materi mata pelajaran khusus penghayat tertentu.
“Kita minta kepada guru tersebut untuk memberi nilai kepada peserta didik khusus pelajaran penghayat,” katanya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, tidak hanya berlaku untuk para penghayat saja, namun beberapa mata pelajaran agama lain seperti Hindu, Kristen, maupun Katholik. Apabila ketersediaan guru belum ada, Pemkab Semarang melalui Disdikbudpora bekerjasama dengan pihak ketiga.
“Kita kerjasama dengan guru yang ada di masyarakat. Guru itu juga memberikan materi dan pendalaman terkait mapel agama,” ujarnya.
Meski Penghayat baru di sahkan Majelis Konstitusi dan diakui secara hukum, namun selama ini proses pembelajaran untuk penghayat sudah diberikan disekolah.
“Untuk masalah kurikulum kita tidak ada maslaah karena untuk siswa penganut penghayat kita fasilitasi,” ujarnya.
Meski begitu, hingga kini belum ada keputusan untuk penggunaan kurikulum baru akibat disahkannya penghayat oleh MK
“Kurikulum masih ikut sama dan mereka menyesuaikan. Ketersediaan guru memang belum ada, kita kerjasama dengan pihak ketiga dimana pihak itu berasal,” imbuhnya. (*)
(Visited 76 times, 1 visits today)

Berita Terkait

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *