Lebih Besar dari Freddy Budiman, Benny Sudrajat Bandar Besar Narkoba yang Tak Juga Dihukum Mati

Bagikan:

images (2)

Mediatama – Freddy Budiman dieksekusi mati pada Jumat (29/7) dini hari tadi, karena merupakan gembong narkoba kelas kakap dengan jaringan internasional. Namun publik harus tahu jika ada nama Benny Sudrajat yang diyakini merupakan bandar narkoba dengan level diatas Freddy Budiman. Lalu siapakah Benny Sudrajat tersebut ?

 

Di dunia narkoba Asia khususnya, nama Benny sudah sangat terkenal. Jaringanya sudah mendunia dan dikenal cukup luas di kalangan mafia Hong Kong. Dari data yang ada, Pada 2001 lalu, Benny bertemu bandar narkoba bernama Peter Wong di Hong Kong dan sepakat melakukan kerjasama narkoba. Dari Peter, Benny mendapat modal Rp 1 miliar untuk bisnis ini. Bila Freddy hanya berkutat pada bisnis ekspor-impor narkotika, Benny malah membangun pabrik narkoba terbesar ketiga di dunia yang berlokasi di Tangerang, Banten.

Untuk membangun pabrik narkoba itu, Benny memanggil para ahli narkotika dari seluruh dunia. Ada nama Nicolas Josephus Gernardus dari Belanda yang bertugas menjadi koki pembuat psikotropika. Lalu ada Serge Atlaoui yang diundang dari Prancis sebagai teknisi mesin pembuat zat psikotropika, Iming Santoso sebagai Direktur PT Sumaco, sebuah perusahaan yang dibuat untuk mengelabui petugas atas aktivitas pabrik narkoba. Kemudian ada lima WN China yaitu Zhan Manquan, Gan Chunyi, Chen Hongxin, Jiang Yuxin dan Zhu Xuxiong yang didatangkan untuk bertugas sebagai tenaga ahli pembuat narkoba. Samad sebagai penjaga gudang, Arden Christian sebagai petugas administrasi pabrik, Hendra Raharja sebagai pembantu umum, Toto Kusnadi sebagai petugas kebersihan, Marodi, Stanley dan Once sebagai karyawan. Sementara Benny sendiri berperan sebagai big bos sekaligus penyandang dana.

 

Aktivitas produksi narkoba di pabrik yang mengambil bahan baku langsung dari Hongkong ini pun dibuat serapi mungkin. Begitu proses selesai, orang-orang yang diundang dari luar negeri ini kembali lagi ke negara masing-masing. Satu kali proses pembuatan, mereka bisa menghasilkan ribuan butir ekstasi. Ekstasi ini kemudian dibungkus plastik, dimana tiap plastiknya berisi 1000 butir ekstasi. Kemudian plastik itu disimpan rapi di dalam kardus dan dikirim ke berbagai tempat di Indonesia dan Asia Tenggara. Saking rapinya, jaringan ini dikabarkan mampu memproduksi berulang kali ektasi dengan hasil jutaan butir ekstasi dan ratusan kg sabu. Namun pada 14 April 2005, pabrik tempat produksi terbakar sehingga operasi dihentikan sementara. Nasib baik masih menangungi Benny, karena ekstasi dan sabu telah berhasil diproduksi lalu diimpor ke Filipina dengan disarukan ke dalam paket keramik.
Sebulan setelahnya, bisnis narkoba Benny kembali berdenyut dengan memindahkan lokasi pabrik ke Cikande, Serang. Benny Sudrajat merogoh kocek Rp 3,1 miliar untuk membeli lahan pabrik tersebut, dan menyarukan bisnisnya dengan membuat perusahaan kamuflase dengan nama PT Sumaco Jaya Abadi.

Operasi pabrik kemudian mulai berjalan pada Juli 2005 dan dalam sehari, pabrik ini bisa memproduksi 8 ribu pil ekstasi dan 25 kg sabu. Setelah dihasilkan ribuan kg sabu dan jutaan butir ekstasi, barang dikeluarkan dalam paket kecil dan dipool di sebuah gudang di Kompleks Pergudangan Jatake. Produksinya dipasarkan ke berbagai penjuru dunia. Hasil dari produksi narkoba ini dikabarkan mencapai lebih Rp 273 miliar sekali produksi.

Pada 11 November 2005 merupakan awal dari akhir sepak terjang Benny di bisnis narkoba. Setalah sekian tahun merajai dunia narkoba, petugas dari Direktorat Narkoba Bareskrim Polri menggerebek pabrik itu. Nicolas tertangkap basah sedang menyaring campuran kimia piperonil metil keton, dan Serge ditemukan sedang istirahat usai mengganti elemen mesin destilasi yang baru. Sementara WN China lainnya tengah mengoperasikan pabrik. polisi mendapati 125 kg sabu dan ribuan ekstasi siap edar.

 

Mengetahui pabrik narkobanya digerebek, Benny bersiap-siap pergi ke Singapura. Namun petugas yang telah mengantisipasi ini kemudian berhasil meringkus Benny di Bandara Soekarno-Hatta. Adapun Aming ditangkap di sebuah hotel di Jakarta Barat.

 

Atas keberhasilan Mabes Polri itu membongkar pabrik narkoba terbesar ketiga di dunia ini, Presiden SBY kala itu bahkan meninjau langsung lokasi pada keesokan harinya. Komplotan ini lalu diadili dan sembilan orang di antaranya yaitu Benny Sudrajat alias Tandi Winardi, Iming Santoso alias Budhi Cipto, lima orang WN China Zhang Manquan, Chen Hongxin, Jian Yuxin, Gan Chunyi dan Zhu Xuxiong, satu orang WN Belanda Nicolas, dan satu WN Prancis yaitu Serge.

 

Benny yang juga Ketua dari kelompok narkoba yang terkenal dengan sebutan ‘Tangerang Nine’ inipun kemudian dijebloskan ke LP Nusakambangan. Bukanya insyaf, di LP Pasir Putih, Nusakambangan, Benny malah semakin leluasa mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari pada 2009-2010.

 

Di dalam LP, Ia memanfaatkan dua anaknya untuk kembali membangun pabrik narkoba pada 2008. Dua anaknya yaiitu Arden Christian Sudrajat dan Aldo Enrico Sudrajat. Kala itu, Benny dan Arden sama-sama meringkuk di Nusakambangan. Bedanya, Arden duluan keluar karena dihukum dalam hitungan tahun, sedangkan Benny tetap di dalam penjara karena menanti eksekusi mati. Sekeluarnya dari penjara, Arden menjadi kaki tangan bapaknya. Benny mengontak temanny di Hong Kong, Afan untuk membangun pabrik narkoba di Indonesia. Setelah selesai bertugas selama satu mingguan, ia kembali ke Hong Kong. Operasi pabrik ini akhirnya terbongkar saat polisi menggerebek pada 2009 lalu. Arden anak pertama Benny pun dihukum 18 tahun penjara. (fer)

(Visited 9,196 times, 1 visits today)

Berita Terkait

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *