Musim Penghujan, Produksi Gula Jawa di Kab. Semarang Menurun

Bagikan:

 

Ungaran, Mediatama – Produksi gula Jawa (merah) di Kabupaten Semarang menurun. Pemicunya yaitu dampak dari perubahan musim. Beberapa perajin gula merah di Desa Ngasinan, Kecamatan Susukan, mengungkapkan, jika penurunan produksi sudah terjadi sejak memasuki musim penghujan.

 

“Sejak musim penghujan sudah berkurang produksinya,” ujar salah seorang pengrajin gula merah di Dusun Kemasan, Desa Ngasinan, Suratih (56) Kamis (7/12).

 

Produksi gula merah di dusun tersebut masih dilakukan secara konvensional. Suratih menjelaskan, bahan baku dari gula merah yaitu getah dari pohon aren. Setelah getah tersebut diambil, kemudian direbus diatas bara api selama kurang lebih 5 jam. Setelah direbus, gula merah ditiriskan menggunakan tempurung kelapa dan di jemur.

 

Saat musim penghujan seperti saat ini, proses penjemuran tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Hasilnya, kualitas gula merah pun menurun. Selain kualitas, produktivitas juga menurun.

“Kalau cuaca seperti ini jelas menurun, karena proses jemurnya tidak bisa secara maksimal,” katanya.

 

Dikatakan Suratih, dalam sehari biasanya ia bisa memproduksi gula merah hingga 7 kilogram. Namun saat memasuki musim penghujan, produksi gula merahnya menjadi turun hingga 3 kilogram. Padahal, disisi lain permintaan gula merah selalu tinggi terutama di pasar-pasar tradisional.

“Kita sudah ada (pembeli) yang ngambil sendiri, saat produksi turun juga dikeluhkan mereka karena permintaan memang banyak,” ujarnya.

 

Adapun harga gula merah dari produsen perkilonya saat ini mencapai Rp 13 ribu.

“Satu cetakan (batok kelapa) ini beratnya 13 ons,” ujarnya.

 

Sementara itu, pengrajin lain di dusun setempat, Tumini (52) mengatakan, kondisi cuaca juga mempengaruhi getah nira.

“Tidak seperti biasanya, dan kalau dibuat rasanya juga berbeda saat musim kemarau,” kata Tumini.

 

Ia sendiri saat musim penghujan, produksi gula merahnya hanya mencapai 2,5 kilogram per hari. Dimana pada hari biasa selain musim penghujan produksi gula merahnya mencapai 6 kilogram.

 

Sementara itu, Kepala Desa Ngasinan, Habib Sudarmono mengatakan, menurunnya produksi gula merah tersebut secara tidak langsung berpengaruh kepada tingkat perekonomian masyarakatnya.

“Kalau produksi dan kualitas turun, otomatis yang terjual tidak banyak dan itu pasti mengurangi pendapatan mereka,” kata Habib.

 

Saat ini jumlah produsen gula merah di Desa Ngasinan mencapai 40 perajin, dimana kesemuanya tersebar di seluruh dusun di Desa Ngasinan.

”Desa Ngasinan salah satu produsen gula merah terbesar di Kabupaten Semarang, sehingga banyak yang ambil ke sini,” katanya.

 

Dikatakan Habib, saat ini upaya yang dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat yaitu pemberian bantuan berupa alat produksi.

“Di Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD), surplusnya ada bagian untuk diberikan berupa bantuan alat produksi kepada para perajin gula merah,” katanya. (*)

(Visited 45 times, 1 visits today)

Berita Terkait

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *