Pakar: Elit Politik Jangan Malu Tiru Iklan Motor

Bagikan:
Mediatama.co, Semarang – Pakar komunikasi Gunawan Witjaksana menyarankan kalangan elit politik untuk tidak malu meniru iklan sepeda motor dalam berkompetisi satu sama lain di percaturan politik.
“Coba sekarang, dulu saya ingat iklan Vespa berbunyi ‘Lebih Baik Naik Vespa’, kemudian sekarang Yamaha slogannya ‘Semakin Di Depan’, dan lain sebagainya,” katanya saat Dialog Interaktif bertema “Mencegah Eksploitasi Isu SARA Dalam Pilkada 2018 dan Pilpres 2019” di Stasiun Semarang TVdi Semarang, Selasa (24/4) petang.
Namun, kata Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Semarang tersebut, tidak pernah ada slogan dari produsen sepeda motor yang saling menjatuhkan sama lain, misalnya produk A lebih baik dari produk B.
Dalam acara yang dimoderatori Poernomo Anwari, Gunawan menyebut kecenderungan para elit politik sekarang ini justru mencoba saling menjatuhkan lawan politiknya, dengan cara-cara yang tidak sehat, termasuk menggunakan isu SARA yang bisa memecah belah.
“Maraknya ‘hoax’ sekarang ini juga memprihatinkan, terutama melalui media sosial yang digunakan sebagai sarana untuk menebar ujaran kebencian. Tanpa pikir panjang kemudian di-‘share’,” katanya.
Sementara itu, mantan Direktur Sabhara Mabes Polri Brigjen Pol (Purn) Soehardi SA membenarkan para elit politik saat ini, begitu mudahnya berbicara di media tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
“Ada orang yang berpengaruh, kemudian berbicara menjelekkan orang lain. Kalau para tokoh berbicara seperti itu akan menjadi sangat gaduh bangsa ini. Mereka tidak menampilkan kecerdasan,” katanya.
Kalau mereka negarawan dan tokoh bangsa, kata dia, mestinya menjaga apa yang diucapkan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, dengan dilandasi kecerdasan kebangsaan dan berdemokrasi.
“Jika sifatnya mencari kekuasaan dengan cara memecah bangsa, berarti mereka tidak cerdas kebangsaan. Kemudian, cerdas berdemokrasi. Bijak dalam berbicara, berpolitik, dan berdemokrasi,” katanya.
Soehardi mengingatkan mereka yang duduk sebagai elite untuk tidak mempermainkan emosi rakyatnya, sebab apa yang diucapkannya sangat berdampak besar terhadap masyarakat terutama di akar bawah.
Pengajar Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang, Hendro yang juga menjadi pembicara mengatakan, elite yang suka memecah belah membuktikan belum dewasa dalam berdemokrasi.
“Kedewasaan seorang tokoh, atau bahkan negarawan tidak cukup hanya dari pemikirannya, tetapi juga omongannya. Di atas, mereka ngomong seperti itu tidak apa-apa, tetapi di bawah bisa bahaya,” tegasnya. (*/fer)
(Visited 21 times, 1 visits today)

Berita Terkait

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *