Santri di Jateng Didorong untuk Jadi Pengusaha

Bagikan:
Eva Yuliana. Istimewa
Mediatama, Solo – Pelatihan yang tepat serta adanya dorongan dari pemerintah, diyakini bisa mengembangkan ekonomi santi menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia. Terlebih, jumlah pondok pesantren yang mencapai 4 ribu khusus di Jawa Tengah saja, bisa membantu peran pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan.
“Jika ini mau dikelola dengan serius, ekonomi santri¬†bisa menjadi kekuatan ekonomi baru di Indonesia. Lebih luas, pengembangan ekonomi santri di Jawa Tengah diharapkan bisa membantu mengentaskan kemiskinan,” ujar politisi¬†Partai Nasdem, Eva Yuliana, kepada wartawan, Senin (1/4)
Untuk mewujudkan hal itu, Eva yang merupakan seorang anak pengusaha ini mengaku sudah merumuskan sejumlah cara untuk membantu para santri untuk bisa menjadi seorang entrepeneur. Menyediakan alat, pemberian pelatihan oleh tenaga profesional hingga mengasah jiwa ekonomi santri dengan membuatkan usaha di pondok pesantren yang bekerjasama dengan retail modern, menjadi sebuah strategi jika nanti dirinya terpilih maju ke senayan.
“Dengan seperti itu, maka toko itu bisa jadi laboratorium santri untuk bisa mendapat ilmu tentang retail modern. Karena ilmu retail modern itu tidak mudah, dari penataan barang yang akan dijual, kemudian manajemen pergudangan hingga manajemen keuangan butuh keahlian khusus. Toko yang kita usahakan saya harap bisa bermafaat secara optimal sebagai lahan untuk santri belajar jadi entrepreneur matang, khususnya dalam hal retail,” tutur Eva yang masuk sebagai Caleg DPR RI di Dapil Jateng V yang meliputi wilayah Solo, Sukoharjo, Boyolali dan Klaten ini.
Eva meyakini, pengembangan ekonomi santri bukan hal sulit. Dirinya percaya, Ponpes siap dengan hal itu.
“Sebagai alumni santri tentu saya dapat dengan mudah menceritakan, bahwa santri adalah kader bangsa yang paling siap menghadapi segala kondisi. Santri dibesarkan dengan menguatkan mentalnya, penguasaan bagaimana menghadapi kondisi sosial yang ada,” imbuhnya.
Mengenai regulasi, Eva menilai khusus untuk santri tidak diperlukan. Menurutnya, cara untuk mendorong santri menjadi seorang entrepreneur yaitu dengan memberikan bekal yang diperlukan.
“Kemudian kalau yang didorong, bagaimana kita membekali pendidikan entrepeneur kepada santri itu yang diharapkan. Jadi alumni pondok pesantren lebih matang dan lebih siap untuk kembangkan dan berinovasi dalam hal ekonomi,” harapnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen di kesempatan berbeda mengatakan, keberadaan 4.759 ponpes di Jateng dengan sekitar 600 ribu santri bakal menjadi kekuatan ekonomi. Sehingga karakter para santri yang sudah baik, harus diimbangi dengan kesiapan para santri menghadapi tantangan ekonomi di tengah kemajuan teknologi dan industri global seperti sekarang dan yang akan datang.
Berbagai upaya pun dilakukan Pemprov Jateng guna mendukung dan mendorong pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), termasuk UMKM di lingkungan ponpes. Di antaranya berupa bantuan bibit untuk sektor pertanian, pelatihan, pengemasan hingga pemasaran produk UMKM. Selain itu,  membantu mengurus perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, dan lainnya, serta bantuan kredit modal usaha melalui Kredit Mitra 25 Bank Jateng, menjadi upaya yang telah dilakukan Pemrov Jateng.
“Pada periode tahun 2018-2019, kami menyiapkan PIRT dan sertifikat halal untuk 100 UMKM secara gratis, kemudian 2020 ditingkatkan menjadi 500 UMKM termasuk pondok pesantren. Bagi pondok pesantren yang memiliki usaha dan ingin mengurus PIRT dan sertifikat halal, datang ke Pemprov dan semua gratis. Ini upaya untuk berkembangnya UMKM di Jawa Tengah,” beber pria yang akrab disapa Gus Yasin ini.
Pemerintah pusat sendiri saat ini tengah gencar melaksanakan kegiatan penumbuhan wirausaha industri baru, dan pengembangan unit industri di lingkungan pesantren, yang dinamakan program Santripreneur. Hal itu pun menjadikan ponpes berpotensi besar menciptakan wirausaha baru dan menumbuhkan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Dalam implementasi Santripreneur ini, ada dua model penumbuhan wirausaha industri baru dan pengembangan unit industri di ponpes. Yaitu Santri Berindustri dan Santri Berkreasi.
Santri Berindustri merupakan upaya pengembangan unit industri yang telah dimiliki oleh ponpes maupun penumbuhan unit industri baru yang potensial. Langkah ini diharapkan mendorong unit industri tersebut menjadi tempat magang para sumber daya manusia di lingkungan pesantren.
Sedangkan, model Santri Berkreasi merupakan program kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa ponpes untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi dan multimedia sesuai standar industri saat ini. (*ardn)
(Visited 14 times, 1 visits today)

Berita Terkait

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *