Video Jajanan Tradisional, Pilihan Menu Berbuka Puasa Ditengah Maraknya Takjil Berbahan Berbahaya

Video Journalist : Yongkie

Tegal, Mediatama – Maraknya Takjil yang dicampur dengan bahan kimia berbahaya, membuat warga di Tegal, Jawa Tengah, memilih jajanan tradisional sebagai menu alternatif berbuka puasa. Selain aman dikonsumsi karena dibuat dari bahan-bahan alami, jajanan tradisional juga tak kalah enak dengan olahan makanan masa kini.

 

Adalah Ibu Warliah, seorang pedagang jajanan tradisional di kawasan Pasar Alun-alun Kota Tegal. Saat ramadhan seperti ini, daganganya selalu diserbu pembeli saat menjelang waktu berbuka puasa. Ibu Warliah menjajakan beragam jenis jajanan tradisional seperti klepon, uli, jongkong, alu-alu, cenil, awul-awul, hingga ketan hitam.

 

Selama bulan ramadhan, omset Ibu Warliah meningkat tajam, karena banyak warga yang membeli jajanan ini, sebagai menu berbuka puasa. Selain tidak membosankan, jajanan tradisional ini juga tak kalah enak dengan jajanan olahan masa kini.

 

Selain itu, pilihan jajanan tradisional yang biasa dikonsumsi dengan dicampur parutan kelapa ini adalah cara warga untuk menghindari jajanan olahan masa kini yang marak dicampuri bahan kimia seperti pewarna dan pengawet makanan.

 

Harga penganan ini pun terlibalng relatif murah. Anda bisa membelinya hanya dengan mengeluarkan Rp. 3 ribu untuk tiap bungkus jajanan. Selain rasanya yang enak dan murah, jajanan pasar biasa dipilih warga untuk melepas rasa kangen pada jajnan yang sudah ada sejak jaman nenek moyang ini. (fer)

VIDEO : Bubur India, Menu Warisan Kuno untuk Berbuka Puasa

Video Journalist : Feri Nugroho

Semarang, Mediatama – Beragam menu berbuka puasa unik muncul hanya di saat bulan ramadhan. Di Semarang, terdapat menu bubur india yang disajikan kepada jamaah masjid di salah satu masjid tua setiap menjelang waktu berbuka puasa. Menu bubur india inipun merupakan tradisi kuno warisan leluhur yang sudah berusia lebih dari dua setengah abad.

 

Masjid Jami yang ada di kawasan Pekojan Semarang ini, memang dikenal sebagai salah satu masjid tua di Semarang. Di setiap bulan ramadhan, masjid tua ini mempunyai ciri khas tersendiri, yakni dimana setiap saat berbuka puasa, pengurus masjid selalu menyediakan menu khas bubur untuk para jamaahnya.

 

Menu bubur ini dikenal dengan nama yang khas, yakni Bubur India, mengingat lingkungan lokasi masjid berada di lingkungan pemukiman warga keturunan India dan Pakistan pada waktu itu. Tak hanya itu, munculnya menu bubur india inipun dari orang-orang Gujarat kuno ratusan tahun silam, saat mereka tinggal berdomisili di Kota Semarang untuk berdagang.

 

Pembuatan bubur India ini sendiri tak berbeda dengan bubur biasanya, dimana bahanya menggunakan beras, santan, daun sere, garam, jahe, bawang merah, bawang putih, serta daun pandan untuk bumbu penyedapnya.

 

Dengan menggunakan kuali dari tanah liat, beras ditanak dengan air yang dipanaskan oleh tungku api yang menggunakan bahan kayu. Kurang lebih setengah jam, bahan dicampurkanlah santan yang kemudian diikuti dengan bumbu-bumbu lainya. Setelah hampir dua setengah jam, tanakan beras dan santan tadi telah berubah menjadi bubur dan siap untuk disajikan.

 

Satu jam sebelum waktu berbuka tiba, bubur mulai disiapkan untuk disajikan. Dengan mangkuk plastik, bubur disajikan dengan campuran sayur terik, tahu dan ayam. Anak-anak dan masyarakat sekitar pun tak mau ketinggalan untuk mencoba menyantap bubur india ini. Mereka bahkan rela mengantri beberapa jam sebelum waktu berbuka.

 

Yang membedakan bubur india dengan bubur lainnya adalah, bumbu aroma jahenya yang membuat salah satu masjid tua di Semarang ini menjadi ampiran banyak orang, tatkala tiba waktu berbuka puasa. Bumbu rempah-rempah yang juga turut dicampur dalam masakan bubur ini juga menjadikan rasa bubur sangat gurih. Tak heran, untuk setiap harinya, pihak masjid menyiapkan sekitar 200 porsi bubur India untuk menu berbuka puasa.

 

Dalam tradisinya, acara berbuka dilaksanakan di serambi masjid. Setelah sebelumnya warga  mengikuti majlis taklim di dalam masjid. Menjelang jam berbuka warga duduk bersila, kemudian berdoa dan menyantap menu bubur bersama-sama pada waktu berbuka tiba.

 

Setua usia masjid, tradisi menyajikan bubur india di masjid ini sudah berumur lebih dari dua setengah abad. Sebuah tradisi religi yang khas hanya ditemukan di bulan ramadhan seperti sekarang ini. Tradisi bubur india ini sendiri sebenarnya bermakna syiar islam untuk kaum muslim, sehingga bukan semata menyantap menu makanan. Dahulu, sajian ini diperuntukkan bagi para musyafir yang sedang mampir beristirahat di masjid ini. (fer)