Sendratari Ramayana, Anoman Duta Sebagai Simbol Rakyat yang Kuat

MEDIATAMA – Anoman tak kenal lelah, dia melompat melintasi lautan menuju ke Alengka. Setiba di sana, dia mencari keberadaan Dewi Sinta yang belakangan diculik oleh Rahwana. Sempat ditangkap, dibakar, namun Anoman berhasil menyelesaikan misi dari Ramawijaya, sekaligus menghanguskan sebagian wilayah kerajaan Alengka.

Fragmen tersebut merupakan petikan dari epos Ramayana yang dibawakan oleh Sanggar Greget Semarang dalam bentuk Sendratari di Malibu Seafood Deck, Semarang, Senin (17/08/2026). Kisah kepahlawanan Anoman dibawakan secara apik oleh Canadian Mahendra yang terampil memainkan setiap peran melalui gerak tari khas kera putih tersebut.

Mahendra menyampaikan, bahwa sosok Anoman dalam kisah tersebut bisa ditafsirkan sebagai simbol yang cukup relevan dalam masa sekarang ini. Menurutnya, Anoman menjadi representasi rakyat jelata yang memiliki kekuatan, sakti, namun masih tunduk pada nilai-nilai luhur.

“Dalam pewayangan jawa, dia tidak dikisahkan lahir sebagai bangsawan. Dia adalah manusia kera. Dia juga patuh terhadap nilai-nilai luhur dan berani melawan angkara murka. Dalam kisahnya bahkan Anoman sendirian melawan Kerajaan Alengka saat ditugasi Ramawijaya. Artinya, dia memiliki prinsip dan teguh,” kata Mahendra usai pentas.

Menambahkan, sutradara sendratari, Sangghita Anjali, mengungkap bahwa semua kisah memiliki sudut pandang berbeda untuk ditafsirkan. Menurutnya, tafsir dapat berbeda-beda sesuai konteks dan peristiwa yang terjadi.

“Kami sebagai pelaku seni mencoba untuk menawarkan sajian untuk dinikmati masyarakat. Namun juga ada pesan-pesan yang perlu juga kami angkat,”imbuhnya.

Sementara itu, pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Priyambodo, mengatakan jika dalam kisah Ramayana ini, tanpa Anoman hampir mustahil dia mengalahkan rahwana di Alengka. Karena, lanjutnya, dari informasi Anoman inilah, Rama masih memiliki keyakinan kuat sehingga tekadnya semakin bulat untuk menyeberang ke Alengka dan menyelamatkan istrinya.

“Kita bayangkan kalau tokoh Anoman ini tidak muncul. Apakah Rama masih memiliki keyakinan bahwa Sinta masih hidup, masih layak diperjuangkan? Nah Anoman ini yang menjadi tokoh sentralnya. Makanya, menarik kalau kita tarik ke konteks sekarang, dengan menyebut Anoman adalah representasi rakyat, maka pemimpin harus lebih berhati-hati, jangan asal mengambil sikap dan berucap,” papar Yoyok.

Terlepas dari itu, Yoyok berpendapat jika sendratari yang dibawakan Sanggar Greget di Malibu Seafood Deck ini menjadi satu contoh menarik. Dia menilai bahwa ini menjadi ruang baru bertemunya antara pelaku usaha dan pelaku kesenian.

Menurutnya, kolaborasi antara Sanggar Greget dan Malibu Seafood Deck ini merupakan bentuk konkrit atraksi wisata budaya dan kuliner.

“Menjadi menarik karena masing-masing memiliki ruang gerak yang bisa dioptimalkan bagi masyarakat. Pelaku seni mendapat ruang baru, pelaku usaha mendapat benefit dan menjaring konsumen baru. Jadi sangat menarik,”imbuhnya.

Sendratari Ramayana di Malibu Seafood Deck ini mengambil cerita Hanoman Duta. Pertunjukan ini digarap Sangghita Anjali sebagai koreografer dan sutradara, dengan Canadian Mahendra sebagai komposer.
Sejumlah penari terlibat dalam pertunjukan tersebut. Yoyok Bambang Priyambodo memerankan Prabu Rama Wijaya, Nabila Najwa Rafeyfa sebagai Dewi Shinta, Ratu Gayatri sebagai Kijang Kencana, Canadian Mahendra sebagai Hanoman, Tampan Rama sebagai Prabu Rahwana, dan Azhar Ghani sebagai Indrajit.

Sementara itu, tokoh Prajurit Buta diperankan Gustaf Hyasa, Fabio Rizqi, Nawfal Arfian Wildan, dan M. Azzam. Tata rias dan busana ditangani Tri Narimastuti dan M. Arifin. Adapun Maria Benita bertindak sebagai pimpinan produksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *