Prabowo Minta TNI AL Tambah Kapal Pendarat untuk Penanganan Bencana di Pulau-Pulau Kecil

MEDIATAMA – Presiden Prabowo Subianto meminta penambahan kapal pendarat mekanis atau Landing Craft Mechanized (LCM) dan kapal pendarat kendaraan serta personel atau Landing Craft Vehicle Personnel (LCVP) untuk mendukung penanganan bencana di wilayah kepulauan.

Prabowo mengatakan kebutuhan tersebut penting mengingat Indonesia memiliki banyak pulau kecil yang membutuhkan akses transportasi khusus, terutama ketika terjadi bencana dan diperlukan pengiriman bantuan maupun personel.

“Catatan bagi kita, bagi Angkatan Laut ya, saya kira dari sekarang kita perlu pesan lebih banyak LCVP ya, dan LCM, saya kira kita butuh lebih banyak karena pulau-pulau kita banyak dan kecil-kecil, supaya (terbuka, red.) aksesnya,” kata Prabowo saat memimpin rapat terbatas membahas penanggulangan bencana gempa di NTT melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin.

Pembahasan mengenai penambahan kapal tersebut bermula dari permintaan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena agar tersedia kapal tambahan untuk mendukung mitigasi bencana di wilayah NTT.

Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VII Laksamana Muda TNI Joni Sudianto kemudian menjelaskan kondisi kapal yang tersedia saat ini. Menurut dia, Kodaeral VII memiliki dua kapal patroli, tetapi keduanya berada di Surabaya.

“Saat ini, kami di Kodaeral VII ada dua kapal patroli, Pak. Namun, posisinya dua kapal tersebut ada di Surabaya. Kami mohon dapatnya ada paling tidak dua kapal patroli jenis FPB yang stand by di Kupang sehingga apabila terjadi sesuatu dan butuh bantuan kita bisa gerakkan dua kapal tersebut,” kata Joni.

Prabowo meminta jajarannya mencatat permintaan tersebut dan akan mengoordinasikannya lebih lanjut dengan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.

“Ya nanti kita koordinasi dengan Panglima TNI ya. Di sini ada Kepala (Badan) Logistik (Pertahanan) nanti bisa dikirim ya? Jadi dua kapal patroli jenis FPB 57 ya. Itu cukup? Dua kapal itu cukup?” tanya Prabowo.

Joni mengatakan dua kapal patroli FPB 57 dinilai cukup untuk mendukung kebutuhan mitigasi bencana di NTT dan NTB. Menurutnya, karakteristik wilayah yang terdiri atas banyak pulau kecil membuat kapal berukuran terlalu besar dapat mengalami kesulitan ketika hendak berlabuh.

“Di NTT dan NTB sendiri kondisinya pulau-pulau kecil sehingga apabila kapalnya terlalu besar kesulitan untuk fasilitas labuhnya sehingga menurut kami dengan analisis operasional dua kapal FPB sudah cukup Bapak Presiden,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, Prabowo juga menanyakan kesiapan kapal LCM kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali. Ali menjelaskan bahwa satu kapal LPD umumnya membawa dua unit LCM.

“Di LPD itu dua LCM, biasanya stand by di dalam LPD. Sekarang, ada KRI Semarang, kalau tidak salah dia ada di sana (perairan NTT, red.),” kata Ali.

Ia menyebut saat ini terdapat dua kapal yang bersiaga di sekitar perairan NTT, khususnya wilayah Manggarai, yakni KRI Semarang-594 yang merupakan kapal LPD dan satu kapal LST jenis Frosch.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *