Badan Bahasa Dorong Literasi sebagai Fondasi Kemandirian Pangan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen memperkuat literasi sebagai fondasi menuju kemandirian pangan Indonesia di tengah tantangan global.
Kepala Badan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kecakapan hidup untuk berpikir kritis, bernalar, dan berinovasi dalam membangun ekosistem pangan berdaulat.
“Kita tak bisa bicara soal ketahanan pangan tanpa menyentuh aspek literasi. Literasi membuka mata. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari acuh menjadi peduli, dari pembaca menjadi pelaku,” ujarnya, Selasa (12/8).
Hafidz menilai penguatan literasi sejak usia dini menjadi kunci mencetak SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Skor literasi kita masih harus diperkuat. Ini adalah alarm. Tanpa literasi, tak ada ruang bagi kreativitas dan daya cipta,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Badan Bahasa akan menyusun buku tematik literasi pangan dari PAUD hingga menengah untuk menumbuhkan minat anak terhadap pertanian, perikanan, dan industri pangan.
“Kami ingin anak-anak memandang dunia pangan bukan sebagai beban, tapi harapan. Inilah kontribusi Badan Bahasa terhadap Asta Cita Presiden,” kata Hafidz.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menambahkan penguatan literasi pangan sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara agraris, sekaligus mendukung lahirnya SDM profesional di bidang pertanian dan pengolahan hasil pangan.

