Oversupply Minyak Dunia Tekan ICP Desember 2025 ke Level 61,1 Dolar AS per Barel
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) Desember 2025 turun menjadi 61,1 dolar AS per barel akibat kondisi kelebihan pasokan (oversupply) minyak dunia. Penurunan ini dipicu meningkatnya produksi global di tengah kekhawatiran pasar terhadap narasi super glut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, tekanan harga terutama berasal dari produksi Amerika Serikat yang tinggi serta peningkatan produksi OPEC+. “Penurunan angka ICP pada bulan Desember 2025 diakibatkan kekhawatiran pasar akan narasi super glut atau kelebihan pasokan, serta kondisi oversupply minyak dunia yang dipengaruhi oleh produksi Amerika Serikat yang tinggi,” ujarnya.
Laode menyebut produksi OPEC+ pada November 2025 mencapai 43,1 juta barel per hari (bph), meningkat secara month over month. OPEC juga merevisi proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ tahun 2025 menjadi 0,95 juta bph, sementara S&P Global memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan 2025 menjadi 730 ribu bph. Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus minyak 2026 sebesar 3,7–4 juta bph.
Faktor geopolitik turut memengaruhi harga, seiring potensi meredanya konflik Rusia–Ukraina. Rusia juga memproyeksikan kenaikan produksi minyak menjadi 10,36 juta bph pada 2025 dan meningkat lagi menjadi 10,54 juta bph pada 2026. “Penurunan ICP bulan Desember disebabkan peningkatan suplai minyak dunia,” kata Laode.
Di kawasan Asia Pasifik, tekanan harga juga dipengaruhi penurunan crude throughput China sebesar 0,9 persen menjadi 14,86 juta bph pada November 2025, terendah dalam enam bulan. ICP Desember 2025 turun 1,73 dolar AS per barel dari November menjadi 61,10 dolar AS per barel, sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026.

