Enam Abad Jejak Ceng Ho: Merawat Akulturasi Budaya melalui Sendratari

MEDIATAMA – Sanggar Greget Semarang, menggelar Sendratari bertajuk “The Legend of Cheng Ho” di Kawasan Wisata Sam Poo Kong, Semarang. Dalam sendratari tersebut, Sanggar Greget membawakan kisah persinggahan Laksamana Cheng Ho di kawasan Kota Semarang sekitar enam abad yang lampau.

Ketua Sanggar Greget Semarang, Sangghita Anjali, mengatakan jika tema tersebut menjadi pilihan utama dalam kegiatan Greget Festival Tari ke-67. Menurutnya, tema ini sangat dekat dengan Kota Semarang, karena Laksamana Cheng Ho dikisahkan singgah di Kota Semarang, tepatnya di kawasan Simongan yang sekarang menjadi Sam Poo Kong.

“Pada GFestar ke-67 ini, kami merasa ingin kembali membawakan tema yang dekat dengan kami di Kota Semarang. Cheng Ho menjadi salah satu pilihan menarik karena secara konteks, Kota Semarang kemudian memiliki akulturasi budaya yang sangat baik. Jadi kami mencoba menginterpretasi peristiwa singgahnya Cheng Ho di Kota ini sebagai simbol akulturasi,” kata Ghita, Sabtu (20/06).

Ghita menambahkan, GFestar ini menyajikan bentuk kesenian drama tari. Jadi, lanjutnya, semua siswa akan menari dengan membawa peran masing-masing selama kurang lebih dua jam.

“Konsepnya sendratari. Tanpa jeda, sehingga penonton bisa merasakan keutuhan kisah lewat tarian. Untuk penampilnya kira-kira 150 orang siswa sanggar,” imbuhnya.

Sutradara sendratari Legend of Cheng Ho, Canadian Mahendra, mengatakan jika pendekatan sendratari ini menggunakan ragam gerak Semarangan. Namun, lanjutnya, menggunakan pola-pola yang cukup sederhana, mengingat kebanyakan pemain dalam acara ini adalah siswa sanggar yang masih kecil.

“Karena banyak siswa yang masih usia sekolah, kita buat ragam yang lebih sederhana, namun tetap tidak mengurangi esensi ceritanya,” lanjut dia.

Menambahkan, pengasuh Sanggar Greget, Yoyok Bambang Priyambodo, mengatakan jika Cheng Ho memang menjadi simbol yang cukup kuat di Kota Semarang. Dari situ, lanjutnya, membuka koridor-koridor budaya yang memungkinkan adanya akulturasi antara budaya satu dan lainnya.

“Dan itu membuka ruang yang sangat lebar bagi kesenian untuk berkembang. Salah satunya seni tari,” katanya.

Menurut Yoyok, hal ini merupakan bentuk keragaman Kota Semarang sebagai kota yang berada di pesisir utara Jawa. Dia menilai akulturasi menjadi hal yang sangat umum terjadi.

“Justru itu yang membuat Kota Semarang menjadi kota yang menarik. Banyak bauran budaya dan itu membuatnya kaya,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *