Menperin Sebut Mundurnya LG Dari Indonesia Tidak Perlu Dikhawatirkan

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa mundurnya LG Energy Solution dari proyek kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebab sudah ada mitra baru asal Tiongkok yang siap berinvestasi.

“Dalam konsorsium bisnis atau proyek besar, pergantian investor adalah hal yang lazim. Ini tidak mengganggu target pengembangan EV di Indonesia,” ujar Agus, Minggu (27/4).

Ia menyampaikan bahwa akselerasi pembangunan ekosistem kendaraan listrik tetap berjalan sesuai rencana dan target, apalagi produksi di dalam negeri sudah mulai berlangsung. Saat ini, dua perusahaan telah memproduksi baterai untuk motor listrik, yakni PT Industri Ion Energisindo dengan kapasitas 10.000 unit per tahun dan investasi Rp18 miliar, serta PT Energi Selalu Baru dengan kapasitas 12.000 unit per tahun dan investasi Rp15 miliar.

Untuk sektor roda empat, Indonesia telah memiliki dua perusahaan utama, yaitu PT HLI Green Power, konsorsium Hyundai Group dan LG, dengan kapasitas produksi tahap pertama 10 GWh dan investasi sebesar USD1,1 miliar, serta PT Hyundai Energy Indonesia yang memproduksi battery pack dengan kapasitas 120.000 unit per tahun dan investasi Rp674 miliar.

Agus menjelaskan bahwa ekosistem kendaraan hijau di tanah air terus berkembang pesat. Hingga 2024, tercatat sebanyak 207 ribu unit kendaraan listrik terdaftar, meningkat 78 persen dibanding tahun 2023 yang berjumlah 116 ribu unit.

Perkembangan ini didorong oleh berbagai kebijakan strategis pemerintah, mulai dari kemudahan usaha, penyusunan peta jalan, hingga optimalisasi penggunaan komponen dalam negeri (TKDN).

Pemerintah tetap menargetkan pada 2030, produksi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 9 juta unit untuk segmen roda dua dan tiga, serta 600 ribu unit untuk mobil dan bus. Target tersebut diharapkan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak sebesar 21,65 juta barel dan emisi CO₂ hingga 7,9 juta ton.

Saat ini terdapat 63 perusahaan yang memproduksi sepeda motor listrik di Indonesia, dengan kapasitas 2,28 juta unit per tahun, serta sembilan perusahaan mobil listrik dengan kapasitas 70.060 unit per tahun dan nilai investasi Rp4,12 triliun. Selain itu, ada tujuh perusahaan bus listrik dengan kapasitas produksi 3.100 unit per tahun dan investasi Rp380 miliar.

“Total investasi yang masuk mencapai Rp5,63 triliun. Ini yang perlu kita jaga, karena memberikan multiplier effect terhadap perekonomian nasional, termasuk dalam menciptakan lapangan kerja,” pungkas Agus.

 

 

 

Penulis : Clarissa Setya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *