Kemenag Gagas Bantuan Operasional untuk Masjid
Kementerian Agama (Kemenag) RI menggagas pemberian Bantuan Operasional Masjid (BOM), serupa dengan skema Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang selama ini diterapkan di sektor pendidikan.
“Kami bermimpi masjid juga memiliki Bantuan Operasional. Kalau BOS bisa satu juta per siswa, mengapa tidak kita nilai juga kontribusi satu jamaah masjid—terutama jamaah subuh?” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, dalam peluncuran Program Ngaji Fasholatan dan 1.000 Masjid Inklusif di Jakarta, Selasa (24/6).
Menurutnya, selama ini masjid dibangun dan dirawat secara swadaya oleh umat Islam dengan semangat gotong royong. Namun, untuk meningkatkan kualitas layanan, diperlukan dukungan negara secara sistemik.
“Masjid dibangun tanpa keterlibatan negara, tapi kalau kita ingin pelayanan yang lebih baik, perlu ada dukungan strategis dari pemerintah,” tegasnya.
Ia mendorong kehadiran negara yang lebih nyata dalam mendukung operasional masjid, karena masjid juga berfungsi sebagai media strategis dalam menyampaikan program-program pembangunan.
“Dari mimbar Jumat, pesan tentang toleransi, ketahanan keluarga, bahaya narkoba, hingga isu stunting bisa disampaikan tanpa biaya besar,” katanya.
Namun, ia mengingatkan pentingnya kualitas dakwah. “Kalau khutbah Jumat tidak sah karena khatibnya tidak memenuhi syarat, yang rugi bukan hanya jamaah, tapi juga negara,” tandas Abu Rokhmad.

