Seblak Sampur, Membuka Energi dan Ruang Baru Dalam Seni Tari Tradisi
Seblak Sampur merupakan salah satu teknik gerak dalam sajian tari. Secara filosofis, seblak sampur dapat dimaknai sebagai upaya untuk membuka ruang energi penari saat menyajikan tarian.
Terinspirasi dari makna filosofis tersebut, Maestro Tari, Yoyok Bambang Priyambodo, berupaya untuk kembali membuka ruang-ruang kreativitas melalui seni tari. Bersama Sanggar Greget Semarang, dia melatih ratusan anak-anak yang memiliki semangat untuk belajar seni tari melalui workshop tari bertajuk “Seblak Sampur”.
“Saya merasa jika semangat anak-anak yang ingin mengenal kesenian, dalam hal ini seni tradisi perlu dipupuk supaya berkembang. Dan Seblak Sampur ini, saya ilhami sebagai upaya membuka ruang kreativitas supaya secara kemampuan anak-anak mendapatkan masukan yang lebih terjaga,” kata Yoyok ditemui saat latihan di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Minggu (27/7).
Kegiatan Seblak Sampur ini, kata Yoyok, sudah digelar lima kali di Kota Semarang. Dia merasa jika workshop singkat ini perlu diperluas jangkauannya, supaya lebih banyak anak-anak yang ingin belajar tari bisa mendapatkan pengalaman tersebut.
Lebih jauh, dia menilai bahwa kehadiran tokoh secara langsung di hadapan anak-anak itu perlu. Menurutnya, anak-anak yang sedang belajar kesenian butuh mendapatkan sosok yang bisa menjadi role model bagi mereka. Sehingga, arah mereka saat belajar kesenian tersebut terus terjaga.
“Anak-anak dapat melihat secara langsung, mendapatkan ilmu, mengilhami semangat berkesenian. Kalau mereka hanya bisa melihat figur melalui media, mungkin rasanya kurang greget. Jika bisa ketemu kan bisa ngobrol, bertanya, dan belajar secara langsung. Dan yang paling utama adalah bisa meniru disiplin yang diterapkan oleh tokoh tersebut. Saya rasa itu hal paling utama, bahwa tanpa disiplin dan konsisten, maestro-maestro seni belum tentu jadi seperti sekarang,”papar dia.
Ketua Sanggar Greget, Sangghita Anjali, mengatakan workshop Seblak Sampur ini berawal dari konten yang membuka pendaftaran di sosial media. Dari situ, lanjutnya, banyak peminat yang mendaftar, mulai dari perorangan hingga sanggar-sanggar di Jawa Tengah.
“kami batasi 200 peserta yang mendaftar. Dan menariknya, banyak sekali peserta yang baru bagi kami. Dan itu menambah semangat kami untuk melatih tari,” kata Sangghita.
Sangghita menilai, kegiatan ini menunjukkan bahwa kesenian tradisi masih banyak digemari oleh anak-anak. Oleh karenanya, perlu dibuka ruang-ruang secara kolektif dengan kemasan pelatihan secara ringkas.
“harapannya, itu bisa mengembangkan minat anak-anak terhadap seni tari lebih besar lagi,” imbuhnya.
Canadian Mahendra, staff Biro Pendidikan Sanggar Greget Semarang menjelaskan dalam kegiatan workshop Seblak Sampur ini, peserta dilatih tiga tarian, yakni Tari Tek Dug, Tari Turangga Rimang, dan Tari Wakul Ayu.
“Kami bagi menjadi tiga kelas, usia TK sampai SD mendapatkan Tari Tek Dug. Usia remaja kami beri materi Turangga Rimang, sedangkan materi Tari Wakul Ayu kami berikan ke peserta usia remaja dewasa,” jelas Mahendra.
Dalam kegiatan tersebut diikuti oleh Sanggar Seni Kaloka Kota Pekalongan, Sanggar Sang Citra Budaya Kota Surakarta, Sanggar ABL Kota Semarang, Sanggar Jagadhita Kab. Batang, Sanggar Omah Biyung Kota Semarang, Sanggar Lestari Kota Semarang, Sanggar Sakuntala Kota Salatiga, Sanggar Kariesta Kota Semarang.

