Lebih Tiga Dekade, Sanggar Greget Pupuk Generasi Baru Lewat Greget Festival Tari
Selama lebih dari tiga dekade, Sanggar Greget Semarang menjaga semangat seni budaya tradisi Jawa Tengah. Melalui sajian Greget Festival Tari, dalam balutan acara Gelar Tari Jawa Tengah, sanggar ini terus memupuk tumbuhnya generasi baru pada ruang-ruang berkesenian khususnya seni tari.
Ketua Sanggar Greget Semarang, Sangghita Anjali, mengatakan bahwa Greget Festival Tari telah digelar sebanyak 66 kali selama 33 tahun terakhir. Menurutnya, gelaran ini bukan hanya sekedar pertunjukkan seni semata.
“Tetapi juga merupakan ajang silaturahmi ruang eksplorasi dan wadah untuk melestarikan serta mengembangkan kekayaan tari tradisi nusantara, khususnya Jawa Tengah,” kata Sangghita, Sabtu (6/12).

Ghita menambahkan, dalam gelaran kali ini, lebih dari 200 siswa gotong royong menampilkan sepuluh tari yakni, Tari Gunungan, Tari Sepur Othok, Tari Song-song Riwis, Tari Cemeti, Tari Tirtamaya, Tari Lurik, Tari Puji Rahayu, Tari Bahurekso, Tari Jayaningrat, dan Tari Ledek Petarangan.
Dia berharap ajang ini dapat menjadi ruang silaturahmi, sumner inspirasi, serta penambah semangat bagi seluruh pelaku seni di Jawa Tengah.
“Mari kita buka hati dan mata kita untuk menikmati setiap sajian seni yang telah disiapkan dengan penuh dedikasi,”imbuhnya.
Menyepakati hal tersebut, Plt Kepala Taman Budaya Jawa Tengah, Kuncoro Dwi Wibowo, mengatakan bahwa ruang pertunjukkan dapat menjadi ajang kumpul dan berkembang bersama. Khususnya di Taman Budaya Jawa Tengah, lanjutnya, merupakan ruang yang dapat digunakan oleh masyarakat melakukan kegiatan kesenian daerah.
“Perlu kami sampaikan bahwa TBJT merupakan suatu taman yang digunakan oleh masyarakat untuk berkegiatan kesenian daerah,”tandasnya.
Lebih jauh, Kuncoro menyampaikan jika pertunjukkan yang digelar Sanggar Greget Semarang ini merupakan ajang pamungkas di tahun 2025. Dia berharap agar pada tahun mendatang, Gelar Tari Jawa Tengah dapat kembali diselenggarakan.
“Harapan kami, 2026 GTJ dapat kita selenggarakan,” imbuhnya.
Selain pertunjukkan tari, TBJT juga memberikan fasilitasi terhadap bentuk kesenian lain, seperti teater dan seni rupa. Menurut Kuncoro, TBJT telah mendapatkan penghargaan dari Menteri Kebudayaan, Fadli Zon sebagai taman budaya terbaik di Indonesia.
“Tidak hanya tarian saja tapi juga fasilitasi kepada seniman di daerah, kita juga ada teater, seni rupa fasilitas di TBJT ini sangat lengkap,”tutup dia.
Dalam ajang tersebut, sejumlah sanggar tari di Jawa Tengah juga mendapatkan penghargaan Gelar Tari Jawa Tengah. Sebagai Pelestari Tari Tradisi adalah Sanggar Oemah Gamelan Kabupaten Banyumas, Seni Barongan Sami Mulang Joyo Kabupaten Blora, Sanggar Seni Magada Kabupaten Klaten, Gladi Beksan Fakultas Kedokteran UNS, dan Sanggar paringga jati raras Kabupaten Pati.
Kemudian sebagai Penata Rias dan Busana Terbaik yakni Denada Widya, S.Pd. dari Sanggar Srimpi, Kabupaten Pemalang. Sebagai Komposer/Penata Iringan Terbaik yakni, Pandu gandang Sasongko Sanggar Bromastra Kabupaten Sragen.
Sebagai Koreografer/Penata Tari Terbaik Ino Sanjaya S.Sn. dari sanggar Kemrincing, Kabupaten Semarang. Sebagai 3 Penyaji Terbaik yakni Sanggar Kemrincing Kabupaten Semarang, Sanggar Bromastra Kabupaten Sragen, dan Sanggar Solah Bowo Kabupaten Sukoharjo.

