Danantara, Fiskal, dan Moneter Diproyeksikan Dongkrak Pertumbuhan Maksimum Indonesia 2026
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menilai sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan peran Danantara akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju level maksimum pada 2026. Dari sisi fiskal, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dipandang mampu mempercepat pencairan anggaran sekaligus menjadi mesin penggerak permintaan yang lebih stabil.
Dari sisi moneter, pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar total 125 basis poin sepanjang 2025 diperkirakan mulai berdampak signifikan pada 2026 melalui ekspansi kredit. “Permintaan untuk pinjaman modal kerja, khususnya, diperkirakan akan pulih seiring dengan aktivitas bisnis yang diperbarui dan pengeluaran operasional terkait,” tulis Danantara dalam dokumen Danantara Economic Outlook 2026.
Danantara sendiri akan berperan melalui penyebaran modal awal oleh Danantara Investment Management (DIM) dan optimalisasi BUMN oleh Danantara Asset Management (DAM) untuk membuka ruang investasi berkelanjutan. “Semua pendorong ini, fiskal, moneter, dan Danantara, dikombinasikan dengan momentum domestik yang ada menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih cepat pada tahun 2026,” tulis Danantara. Lembaga ini juga menilai permintaan pinjaman investasi tetap kuat, yang menegaskan bahwa “model yang dipimpin investasi merupakan jalur teraman bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dalam jangka panjang.”
Meski demikian, Danantara mengingatkan adanya penyempitan aktivitas investasi, baik dari sisi investor maupun sektor. Pertumbuhan sebelumnya dinilai lebih banyak ditopang investor domestik, sementara FDI menurun akibat ketidakpastian global. “Secara sektoral, ekspansi pinjaman investasi terkonsentrasi hanya pada beberapa industri, yaitu pertambangan, logistik, dan kesehatan,” tulis Danantara, seraya mengingatkan risiko makro seperti inflasi, nilai tukar, imbal hasil, dan kredit macet yang bisa meningkat seiring percepatan pertumbuhan.
Untuk menjaga pertumbuhan maksimum tetap berkelanjutan, Danantara menekankan pentingnya pembangunan kapasitas struktural, mulai dari penguatan produksi pangan dan industri domestik, perluasan basis pajak, hingga peningkatan likuiditas domestik. “Tugas-tugas ini jauh lebih kompleks daripada merangsang permintaan melalui kebijakan fiskal dan moneter,” tulis Danantara, menutup dengan peringatan bahwa tanpa reformasi struktural dan ekspansi likuiditas, pembiayaan sektor publik dapat menekan investasi swasta dan membatasi potensi pertumbuhan jangka panjang.

