Kenaikan BBM Nonsubsidi, Celios Minta Pengawasan Solar Subsidi Diperketat
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menekankan pentingnya pengawasan pembelian BBM subsidi di tengah lonjakan harga BBM nonsubsidi.
Bhima menilai kenaikan harga nonsubsidi wajar mengikuti pasar dan Indonesian Crude Price (ICP). Namun, lonjakan tajam pada Pertamina Dex menjadi perhatian.
“Cuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,” kata Bhima.
Ia mengingatkan kenaikan dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter berpotensi mendorong peralihan ke solar subsidi, yang bisa memicu tekanan pasokan.
“Jadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat, terutama di luar pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik, maupun untuk alat-alat berat seperti tadi, ya, (contohnya) di (sektor industri) pertambangan, di perkebunan,” jelasnya.
“Nah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi,” ujarnya menambahkan.
Bhima juga melihat potensi pergeseran konsumsi dari Pertamax Turbo ke Pertamax seiring kenaikan harga. Di DKI Jakarta, harga Pertamax Turbo per 18 April naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100.
“Kalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax. Pertamax selisih harga keekonomiannya juga masih lebar,” ujarnya.
Menurut Bhima, kenaikan BBM nonsubsidi bersifat sementara seiring meredanya eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memengaruhi harga minyak global.
Ia menyarankan pengawasan diperketat serta pemberian insentif bagi industri pengguna BBM nonsubsidi.
“Kemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif (bagi industri) sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik kalau tetap beli BBM yang nonsubsidi seperti Pertamina Dex tadi, sehingga kenaikan beban biaya produksi tidak membuat terjadinya efisiensi atau PHK,” katanya.

