CORE Soroti Rekrutmen Manajer Kopdes, Ingatkan Kesesuaian SDM
Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai program rekrutmen 30 ribu manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih perlu memperhatikan kesesuaian keterampilan sumber daya manusia (SDM) dengan kebutuhan di lapangan.
Menurut Yusuf, program ini memang membuka peluang bagi tenaga terdidik, namun harus dipastikan kandidat memiliki kapasitas manajerial yang memadai.
“Dengan kriteria yang relatif umum—lulusan berbagai jurusan, tanpa keharusan pengalaman bisnis yang kuat—program ini lebih terlihat seperti rekrutmen fresh graduate (lulusan baru) dalam skala besar,” ujarnya di Jakarta, Jumat.
Ia menilai kriteria tersebut berpotensi menimbulkan kesenjangan antara profil tenaga kerja dan kompleksitas tugas pengelolaan koperasi, yang mencakup tekanan likuiditas, rantai pasok, hingga kewajiban kredit.
“Koperasi pada dasarnya adalah organisasi berbasis anggota, dengan prinsip partisipasi dan kepemilikan bersama,” kata Yusuf.
Selain itu, ia juga menyoroti daya tarik program dalam konteks pasar tenaga kerja. Skema kontrak dua tahun dinilai kurang kompetitif dibandingkan pekerjaan lain yang lebih stabil.
“Risiko yang muncul adalah adverse selection—yang masuk bukan talenta terbaik, tetapi mereka yang tidak punya alternatif lebih baik,” katanya.
Ia juga mengingatkan upaya menahan urbanisasi melalui penempatan tenaga kerja di desa berpotensi hanya bersifat sementara jika tidak ditopang fondasi bisnis koperasi yang kuat.
“Jadi efek terhadap urbanisasi berpotensi hanya sementara, bukan struktural,” ujarnya.
Pemerintah sebelumnya membuka rekrutmen 30.000 manajer Kopdes Merah Putih pada 15–24 April 2026. Peserta yang lolos seleksi akan bekerja di bawah PT Agrinas Pangan Nusantara dengan skema Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) selama dua tahun.

