DPD RI Dorong Penguatan Inseminasi Buatan untuk Ketahanan Pangan
Komite II DPD RI mendukung penguatan program inseminasi buatan (IB) oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia guna meningkatkan mutu genetik ternak dan produktivitas peternak.
Ketua Komite II DPD RI Angelius Wake Kako menegaskan IB merupakan isu strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional.
“Inseminasi buatan merupakan isu strategis yang harus dikawal bersama karena berkaitan langsung dengan ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Balai Inseminasi Buatan Lembang, Jawa Barat. Ia juga menyoroti berbagai tantangan, mulai dari rendahnya adopsi teknologi, keterbatasan tenaga inseminator, hingga distribusi semen beku.
“Namun dalam pelaksanaannya, masih terdapat tantangan terkait rendahnya tingkat adopsi teknologi oleh peternak, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia atau inseminator, serta kendala distribusi semen beku ke berbagai daerah di Indonesia,” ujar Angelo.
Ia menekankan pentingnya sinergi pusat-daerah dan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan peternak.
“Kehadiran negara harus benar-benar dirasakan hingga ke tingkat peternak dan petugas lapangan. Ketika inseminator kuat, maka peternak juga akan lebih percaya diri dalam mengembangkan usahanya, dan pada akhirnya ketahanan pangan nasional akan semakin kokoh,” katanya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menyebut subsektor peternakan berperan penting dalam penyediaan protein hewani.
Menurutnya, produksi ayam dan telur sudah surplus, namun daging sapi dan kerbau baru sekitar 50 persen dari kebutuhan nasional. Sementara produksi susu domestik baru memenuhi sekitar 20 persen.
“Tujuan dari IB (inseminasi buatan) adalah memperbaiki mutu genetik ternak, meningkatkan angka kelahiran ternak secara teratur, mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul, dan mencegah penularan penyakit,” kata Agung.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan semen beku melalui Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari dan BIB Lembang.
“Artinya kita sudah swasembada semen beku dari sisi jumlah. Saat ini stok semen beku di BIB Lembang mencapai 6,9 juta dosis, sementara di BBIB Singosari sebanyak 4,8 juta dosis,” ujarnya.
Program IB menunjukkan hasil signifikan. Sepanjang 2017–2023, layanan menjangkau 25,5 juta akseptor sapi dengan kelahiran 13,85 juta ekor atau bernilai ekonomi Rp69,3 triliun. Pada 2026, pemerintah menargetkan layanan IB di 20 provinsi dengan 250 ribu dosis semen beku dan target kelahiran 142.500 pedet pada 2027.

