Eddy Soeparno: Kasus Keracunan Jadi Momentum Evaluasi Program MBG
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyatakan bahwa insiden keracunan makanan menjadi momentum penting untuk mengevaluasi dan memperkuat kualitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke depan.
Menurutnya, MBG merupakan inisiatif strategis untuk meningkatkan gizi generasi muda Indonesia.
“Kasus di Bogor dan sebelumnya di Cianjur mengingatkan kita bahwa program baik ini harus diiringi penguatan sistem pelaksanaan di lapangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (10/5).
Eddy mendukung langkah mitigasi atas kejadian ini serta meyakini evaluasi dan perbaikan akan segera dilakukan. Ia memberi perhatian khusus karena insiden terjadi di daerah pemilihannya, yaitu Kota Bogor dan Cianjur.
Ia juga siap membantu pemulihan siswa agar dapat kembali bersekolah, serta mendorong agar penyajian MBG memenuhi standar kesehatan Badan Gizi Nasional (BGN).
Eddy mengapresiasi langkah cepat Wali Kota Bogor Dedie Rachim yang melakukan penyelidikan epidemiologi lanjutan di 13 sekolah, bekerja sama dengan puskesmas dan rumah sakit untuk pengambilan sampel dari muntahan pasien.
“Evaluasi menyeluruh diperlukan agar program MBG berjalan dengan standar kesehatan, keamanan, dan kualitas yang lebih baik, serta nilai gizi yang optimal,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan pengawasan dan penyempurnaan prosedur, termasuk pengolahan, pengemasan, dan distribusi makanan.
Dalam program sebesar MBG, seluruh aspek teknis, dari bahan pangan hingga wadah makanan, harus diperhatikan secara maksimal agar makanan yang diberikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman.
Sebagai anggota Komisi XII DPR, Eddy menyoroti pentingnya komunikasi terbuka dengan masyarakat demi menjaga kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
“Masyarakat harus tahu bahwa setiap masukan dan kejadian akan menjadi dasar perbaikan layanan ke depan,” tandasnya.
Sebelumnya, 36 siswa SD dan SMP di Tanah Sareal, Kota Bogor, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG yang diproduksi SPPG Bina Insani. Hingga Sabtu (10/5), jumlah korban bertambah menjadi 171 siswa.
Penulis : Clarissa Setya

