Eksplorasi Gerak Yoyok Priyambodo, Umbul Donga dan Pesan Lewat Letupan di Bledug Kuwu
Awal pergantian tahun biasanya digunakan setiap orang untuk melakukan refleksi sekaligus berdoa agar menjadi lebih baik. Cukup berbeda dengan yang dilakukan Maestro Tari, Yoyok Bambang Priyambodo, dalam menyambut pergantian tahun. Dia menghantarkan doa, di Bledug Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah.
Yoyok melakukan umbul donga (berdoa) bersama Canadian Mahendra melalui eksplorasi gerak tari. Gerak tari yang dibangun Yoyok dan Canadian tidak mengikuti pola koreografi konvensional. Keduanya nampak mengikuti rasa yang menuntun mereka mengeksplorasi gerak yang sesuai dengan suasana alam di Bledug Kuwu.
“Kami di sini menari bukan untuk menghibur wisatawan, penonton, tapi untuk umbul donga (berdoa). Gerak-gerak yang kami lakukan merupakan bagian dari upaya untuk menyampaikan doa ini kepada Tuhan,” kata Yoyok, Jumat (2/1/2026).
Pemilihan Bledug Kuwu sebagai lokasi eksplorasi Gerak, bagi Yoyok bukan karena kebetulan. Bledug Kuwu memiliki sejarah panjang dalam mitologi dan legenda di Nusantara. Menurutnya, Bledug Kuwu dipercaya sebagai salah satu legenda pada masa Aji Saka di pulau Jawa. Tokoh yang mampu mengubah Jawa lama menjadi Jawa dengan tatanan baru.
“Di sini, kami berdoa, berharap agar sikap-sikap yang dimiliki oleh para pemimpin dapat berubah juga. Menjadi sikap yang lebih bijaksana dalam menjalankan sistem pemerintahan. Seperti Aji Saka yang mengawali era Jawa yang lebih beradab pada masanya,” papar dia.
Yoyok menyoroti banyaknya bencana yang muncul di akhir tahun 2025. Dia menilai peran manusia sangat menentukan perilaku alam. Yoyok berpendapat bahwa Bledug Kuwu ini juga bisa menjadi simbol letupan-letupan kemarahan alam terhadap perbuatan manusia.
“Kemarin di berita banyak sekali bencana, ada yang diakibatkan karena kerusakan alam, ada yang secara alamiah. Oleh karenanya alam marah dan membalas sikap manusia. Maka itu mari kita kembali belajar bagaimana sikap alam kepada kita. Makanya, saya mencoba berkomunikasi melalui gerak di alam purba seperti di Bledug Kuwu ini,” terang Yoyok.
Lebih jauh, Yoyok berpendapat bahwa menari di alam seperti di Bledug Kuwu berarti kembali ke falsafah hidup orang jawa. Dia menilai hal ini merupakan sebuah ajakan agar setiap orang mengingat kembali bahwa kekuasaan bukan hak untuk menguasai, melainkan amanah untuk merawat.


Luar biasa karya2 mas yoyok. Tepat sekali tarian ini dibawakan dalam bentuk doa agar ada keseimbangan alam dan manusia.. manusia wajib merawat buksn merusak . Manusia wajib menanam pohon bukan menebangnya. Kerusakan alam saat ini adalah kemarahan dengan manusia2 rakus dan rusak mentalnya.
Kami apresiasi untuk doa dari greget