Kementan Perluas Akses Ekspor Pertanian Lewat UEA

Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia memperluas pemasaran hasil pertanian ke pasar global dengan memanfaatkan jalur logistik strategis melalui Uni Emirat Arab (UEA) guna meningkatkan ekspor dan daya saing produk nasional.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono, menyatakan bahwa pihaknya telah bertemu dengan Duta Besar UEA untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri, guna membahas peluang peningkatan ekspor komoditas pertanian melalui jaringan logistik dan distribusi UEA.

“Pertemuan ini membahas potensi ekspor produk pertanian Indonesia ke pasar global melalui UEA,” ujar Sudaryono, Minggu (18/5)

Ia menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat diplomasi ekonomi di sektor pertanian. Sebelumnya, Sudaryono menerima kunjungan Dubes UEA di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, Jumat (16/5).

“Pertemuan ini bagian dari penguatan kemitraan strategis antara Indonesia dan UEA,” ujarnya.

Menurutnya, UEA merupakan mitra penting, baik dalam kerja sama ekonomi maupun karena kedekatan hubungan antarpemimpin negara.

“Hubungan erat yang dimulai sejak era Presiden Jokowi dan berlanjut di bawah Presiden Prabowo menunjukkan adanya chemistry kuat antara kedua negara,” tambahnya.

Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menekankan pentingnya memperluas kerja sama dalam ekspor, hilirisasi, dan pengolahan hasil pertanian.

“Kita ingin melanjutkan investasi yang telah berjalan, baik di sektor pengolahan daging, ekspor komoditas ke Timur Tengah, hingga penetrasi pasar Afrika dan Eropa,” jelasnya.

UEA selama ini menjadi mitra dagang utama Indonesia di Teluk, khususnya untuk produk seperti telur, ayam, buah-buahan, kelapa sawit, dan cengkeh.

“Kita ingin meningkatkan volume ekspor langsung ke pasar global, dan UEA adalah salah satu jalur strategis untuk itu,” imbuhnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan produk pertanian Indonesia–UEA mencatat surplus sekitar 499,89 juta dolar AS pada 2024.

Sudaryono menegaskan Indonesia terbuka terhadap investasi produktif yang menciptakan lapangan kerja, menambah nilai ekonomi, dan memperkuat ketahanan pangan.

Ia juga menerima Wakil Menteri Pertanian Argentina, Agustin Tejeda Rodriguez, untuk menjajaki kerja sama di sektor peternakan.

Indonesia membuka peluang investasi pada komoditas daging sapi dan sapi hidup dari berbagai negara, selama memenuhi syarat teknis dan harga bersaing.

Dengan terus terbukanya peluang kerja sama internasional, Sudaryono berharap posisi Indonesia sebagai negara agraris dapat diperkuat dalam rantai pasok pangan global.

Dubes UEA Abdulla Salem Al Dhaheri menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menyoroti implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) yang ditandatangani sejak 2022 dan telah menunjukkan hasil positif.

“Selama 2023, CEPA menunjukkan dampak signifikan terhadap neraca perdagangan. Kami melihat potensi besar untuk menjembatani kepentingan kedua negara,” ujar Al Dhaheri.

UEA juga menyatakan minat berkelanjutan untuk berinvestasi di sektor pengolahan pertanian dan peternakan di Indonesia, serta mendorong keterlibatan investor kedua negara demi mewujudkan visi bersama di sektor pangan.

 

 

 

Penulis : Clarissa Setya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *