Koperasi Merah Putih dan Kebangkitan Ekonomi Rakyat dari Desa

“Semangat Bung Hatta hari ini hidup kembali di desa-desa dan kelurahan lewat koperasi. Inilah wajah baru ekonomi Indonesia: dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.” — Dr. Zulkifli, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah.

Suasana Hari Koperasi Nasional tahun ini terasa berbeda di Jawa Tengah. Tidak hanya sebagai seremoni tahunan, peringatan 12 Juli menjadi titik refleksi dan kebangkitan baru bagi koperasi sebagai fondasi ekonomi kerakyatan. Dalam bayang-bayang tantangan global dan ketimpangan ekonomi nasional, justru dari desa-desa di Jawa Tengah muncul gelombang baru: Koperasi Merah Putih.

Dalam 100 hari pelaksanaan program “Ngopeni lan Nglakoni”, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tak hanya menunaikan janji-janji politik kepala daerah, tapi juga menjalankan mandat Pemerintah Pusat—salah satunya melalui program Koperasi Merah Putih. Program ini ditujukan untuk memperkuat struktur ekonomi lokal melalui koperasi di tingkat desa dan kelurahan, sesuai amanat Pasal 33 Ayat (1) UUD 1945: bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

“Koperasi Merah Putih adalah bentuk konkret dari ekonomi berkeadilan yang membumi. Bukan sekadar jargon, tapi sudah hadir dalam ribuan musyawarah desa dan kelurahan yang mendorong terbentuknya koperasi sah dan legal,” kata Dr. Zulkifli, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah Jawa Tengah.

Data per 1 Juli 2025 menunjukkan capaian yang luar biasa. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah pelaksanaan Musyawarah Desa/Kelurahan (Musdes/Muskel) terbanyak di Indonesia: 8.523 kegiatan. Jumlah ini melampaui Provinsi Jawa Timur (7.922 Musdes/Muskel) dan Jawa Barat (5.299). Tak hanya dari sisi partisipasi, Jawa Tengah juga memimpin dalam legalisasi koperasi: 8.482 koperasi telah resmi berbadan hukum—setara dengan 99,52% dari total Musdes yang dilaksanakan.

Sebanyak 26 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah bahkan telah mencapai 100% lebih dalam penerbitan badan hukum koperasi, menunjukkan antusiasme masyarakat dalam menyambut program ini. Di daerah seperti Klaten, Sukoharjo, Blora, Wonosobo, dan Kota Surakarta, jumlah koperasi yang telah berbadan hukum justru melebihi jumlah Musdes yang dilaksanakan.

“Ini artinya masyarakat kita bukan sekadar menerima program, tapi mereka menyambut dan menjalankan dengan semangat gotong royong,” ujar Zulkifli.

Namun, masih ada pekerjaan rumah. Tercatat 41 koperasi di enam daerah (Boyolali, Grobogan, Kendal, Purworejo, Pekalongan, dan Kota Pekalongan) telah melaksanakan Musdes/Muskel namun belum menyelesaikan legalitas hukum. Meskipun demikian, angka capaian di atas 96% (kecuali Grobogan, 86,79%) menunjukkan tren positif yang perlu diapresiasi.

Lebih dari sekadar angka, capaian ini menandai bahwa rakyat tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, tetapi pelaku utama. “Kami ingin membangun desa bukan dengan belas kasihan, tapi dengan kemandirian,” tegas Zulkifli.

Mengutip pemikiran ekonom bangsa seperti Mohammad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo, koperasi bukan hanya instrumen ekonomi, tapi juga alat perjuangan sosial yang merata. Melalui koperasi, desa menjadi basis produksi, bukan hanya konsumsi. Koperasi menjadi lokomotif ekonomi lokal yang menjawab tantangan ketimpangan struktural.

“Kita sedang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tak harus digerakkan dari kota besar. Dari desa pun bisa. Dari koperasi pun bisa. Target 8% pertumbuhan ekonomi nasional bukan utopia,” ucap Zulkifli dengan optimisme.

Kini, jalan menuju Indonesia Emas 2045 tidak hanya dibangun lewat proyek-proyek besar di pusat kota, tetapi juga lewat pembentukan koperasi di ujung kampung, di batas dusun, di pinggiran sawah.

Hari ini, di tengah peringatan Hari Koperasi Nasional, Jawa Tengah menunjukkan bahwa ekonomi rakyat bukan masa lalu yang ditinggalkan, melainkan masa depan yang diperjuangkan. Dan koperasi adalah jalan utamanya.

“Kita tak perlu mencari-cari sistem baru. Koperasi sudah membuktikan dirinya relevan, adil, dan tangguh. Tinggal kita hidupkan kembali semangatnya, seperti yang dulu ditanamkan oleh Bung Hatta,” pungkas Zulkifli.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *