Presiden Prabowo Bahas MBG dan swasembada Pangan dengan PM China Li Qiang

Presiden Prabowo Subianto membahas sejumlah program unggulan nasional dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri China, Li Qiang, di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/5). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pertemuan tersebut menyoroti peluang kerja sama strategis, khususnya dalam program makan bergizi gratis (MBG), swasembada energi, dan pembangunan tanggul raksasa (giant sea wall) di pesisir utara Pulau Jawa.

“Kami berharap kontribusi dari China dalam bentuk peningkatan investasi. Presiden juga menekankan program-program unggulan seperti makan bergizi gratis, swasembada energi, serta proyek strategis seperti tanggul raksasa yang sedang disiapkan,” ujar Airlangga di Istana Kepresidenan.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga mendampingi Presiden bersama sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani.

Delegasi juga mencakup Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kepala BIN M. Herindra, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, serta Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun.

Pertemuan bilateral ini merupakan bagian dari kunjungan resmi PM Li Qiang ke Indonesia. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Presiden Prabowo dan PM Li turut menyaksikan penandatanganan empat nota kesepahaman (MoU) dan delapan dokumen kerja sama antara Indonesia dan China.

Empat MoU yang ditandatangani mencerminkan penguatan hubungan ekonomi dan keuangan antara kedua negara. Pertama, MoU antara Bank Indonesia dan People’s Bank of China membentuk kerangka kerja sama untuk mendorong transaksi bilateral dalam mata uang lokal, yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dan memperkuat stabilitas keuangan regional.

MoU kedua menjalin kerja sama dalam kebijakan pembangunan ekonomi antara Dewan Ekonomi Nasional RI dan Komisi Pembangunan Nasional dan Reformasi China. Kesepakatan ini membuka ruang pertukaran strategi dan pengalaman untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif.

MoU ketiga memperkuat kolaborasi di sektor industri dan rantai pasok antara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dan Kementerian Perdagangan China. Kerja sama ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan integrasi ekonomi antara kedua negara melalui transfer teknologi dan pengembangan infrastruktur industri.

Sementara itu, MoU keempat mengusung inisiatif Two Countries, Two Parks, yang melibatkan Kemenko Perekonomian, Kementerian Perdagangan China, dan Pemerintah Provinsi Fujian. Program ini bertujuan membangun kawasan industri yang saling terhubung dan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis kemitraan bilateral.

Selain MoU, delapan dokumen kerja sama juga ditandatangani mencakup berbagai sektor strategis, antara lain pariwisata, ekspor pertanian, pengobatan tradisional, serta pencegahan dan pengendalian tuberkulosis. Kerja sama investasi juga diperkuat melalui kemitraan antara Danantara dan China Investment Corporation, serta pengembangan strategi bisnis antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Kadin China untuk Indonesia.

Dua kerja sama lainnya melibatkan Perum LKBN ANTARA dengan dua institusi media utama China, yakni Xinhua News Agency dan China Media Group, yang menandai penguatan komunikasi publik dan pertukaran informasi antara kedua negara.

 

 

 

 

 

Penulis : Safitri Lembayung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *