Sekjen Golkar Ajak NU Kurangi Politik Praktis, Perkuat Peran dalam Politik Kebangsaan
MEDIATAMA – Sekretaris Jenderal Partai Golkar M. Sarmuji mengajak Nahdlatul Ulama (NU) mengurangi keterlibatan dalam politik praktis dan memperkuat perannya dalam politik kebangsaan sebagai organisasi masyarakat yang mampu memberi masukan kepada negara.
Ajakan tersebut disampaikan Sarmuji dalam diskusi “Bincang-bincang Menjelang Muktamar NU” bertajuk NU Masa Depan dan Masa Depan NU di Jakarta.
Menurut Sarmuji, terdapat perbedaan mendasar antara politik praktis dan politik kebangsaan. Ia menilai, apabila NU lebih sibuk menentukan dukungan kepada calon dalam pemilu, maka organisasi tersebut sedang terjebak dalam politik praktis.
Sebaliknya, jika NU berperan mengawal kualitas pemilu agar suara rakyat benar-benar tercermin dalam hasil demokrasi, maka peran NU dalam politik kebangsaan akan semakin kuat.
“NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, dengan memosisikan diri sebagai civil society yang bisa menasihati negara. Ini yang saat ini sangat kurang, civil society yang mampu menasihati negara, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU,” ujar Sarmuji.
Ia menilai penyampaian kritik kepada pemerintah sebaiknya dilakukan secara santun dan tidak konfrontatif agar lebih mudah diterima. Menurutnya, pendekatan tersebut telah menjadi tradisi NU selama ini.
“Karakter ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad: kalau mau menasihati pemimpin maka tariklah dia dalam ruang yang tertutup. NU punya tradisi seperti itu, bisa menasihati negara tanpa membuat negara tersinggung. Inilah yang saat ini kosong,” katanya.
Sarmuji menambahkan organisasi masyarakat memiliki peran penting sebagai penyeimbang kekuasaan. Karena itu, NU dinilai perlu lebih fokus menjaga arah kebangsaan daripada terlibat dalam persaingan politik elektoral.
“Maka dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima. NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres. NU tidak perlu khawatir tidak mendapat berkah politik karena justru NU makin diperhitungkan kalau bermain di politik besar,” ujarnya.

