SIG Pelopori Industri Hijau dan Teknologi RDF Pertama di Indonesia
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyampaikan bahwa perusahaan pelat merah klaster infrastruktur, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), layak menjadi percontohan industri hijau.
“SIG Group telah menjadi contoh bagaimana industri harus patuh pada standar industri hijau. Kami memahami seluruh perusahaan di subsektor semen memiliki komitmen tinggi dan sudah menjadi teladan praktik bisnis terbaik bagi industri lainnya. Kami berharap apa yang dilakukan industri semen dapat diikuti oleh sektor lain,” kata Faisol Riza, Jumat (27/6).
Pada 23 Juni lalu, ia meninjau langsung pabrik SIG di Narogong, Bogor, Jawa Barat, untuk melihat implementasi standar industri hijau yang dijalankan anak usaha SIG, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk.
Faisol menjelaskan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 tentang Perindustrian, penerapan industri hijau berlandaskan tiga pilar utama, yakni efisiensi dan efektivitas sumber daya, perlindungan lingkungan, dan manfaat sosial.
Dengan landasan tersebut, industri hijau tidak hanya mendukung pencapaian target lingkungan, tetapi juga sejalan dengan ekonomi hijau yang rendah karbon, hemat sumber daya, dan inklusif secara sosial.
“SIG terus melakukan inovasi untuk efisiensi sumber daya dan energi. Konsistensinya pun diakui melalui berbagai penghargaan dari Kementerian Perindustrian,” ujar Faisol Riza.
Ketua Asosiasi Semen Indonesia, Lilik Unggul Raharjo, menegaskan percepatan industri hijau sangat penting bagi industri semen. Selain mendukung upaya dekarbonisasi dalam negeri, langkah ini juga mengantisipasi kebijakan pembatasan emisi karbon yang diterapkan pemerintah melalui nilai ekonomi karbon maupun kebijakan negara tujuan ekspor.
Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Perindustrian kepada SIG, khususnya dalam transformasi menuju perusahaan berprinsip industri hijau dan industri 4.0.
Sebagai pemimpin pasar industri semen nasional, SIG memiliki visi menjadi penyedia solusi bahan bangunan terbesar di Indonesia, berorientasi pada pelanggan, praktik bisnis berkelanjutan, penciptaan nilai bagi pemangku kepentingan, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Komitmen keberlanjutan SIG diperkuat dengan strategi yang mencakup penciptaan solusi inovatif, perlindungan lingkungan, dan penciptaan nilai bagi karyawan serta masyarakat. Ketiga pilar ini diwujudkan melalui tata kelola yang baik dan menjunjung kepatuhan hukum, etika, dan integritas,” kata Indra.
Berkat berbagai inisiatif keberlanjutan, produk semen SIG kini memiliki emisi karbon 38 persen lebih rendah dibandingkan produk konvensional.
Komitmen keberlanjutan SIG juga diperkuat lini bisnis pengelolaan limbah ramah lingkungan bernama Nathabumi yang memiliki fasilitas pengelolaan limbah terbesar di Asia Tenggara.
Melalui Nathabumi, SIG memelopori teknologi refuse-derived fuel (RDF) pertama di Indonesia yang berlokasi di Cilacap, Jawa Tengah. Dalam mencapai industri hijau, SIG turut menciptakan nilai bagi masyarakat dengan melibatkan mereka dalam rantai pasok perusahaan, seperti penyediaan biomassa dan pemanfaatan RDF.

