Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat Ajak Sekolah Bangun Budaya Toleransi untuk Cegah Perundungan
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengajak institusi pendidikan membangun budaya toleransi sebagai langkah penting untuk mencegah perundungan dan menciptakan lingkungan belajar tanpa kekerasan.
Lestari, menilai pencegahan perundungan tidak cukup hanya dengan sosialisasi antikekerasan dan memerlukan kerja sama banyak pihak.
“Harus aktif dibangun sikap dan budaya untuk saling toleransi antarsejumlah pihak di sekolah dan masyarakat dalam berinteraksi pada keseharian,” kata dia dalam keterangan di Jakarta, Selasa.
Ia menyoroti data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat 573 kasus kekerasan di sekolah pada 2024, meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding 2023 yang berjumlah 285 kasus.
Menurut Lestari, meski belum ada data resmi terbaru, maraknya pemberitaan kasus perundungan belakangan ini harus direspons dengan aksi nyata.
“Upaya pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh. Upaya yang dilakukan tidak cukup dengan membangun kesadaran masyarakat melalui sosialisasi terkait berbahayanya perundungan,” tuturnya.
Ia menegaskan setiap institusi pendidikan harus membangun sikap toleransi agar tercipta budaya interaksi tanpa kekerasan. Lestari juga menekankan dampak serius yang ditimbulkan.
“Dampaknya tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi bisa berkontribusi pada memburuknya kesehatan mental peserta didik yang merupakan generasi penerus bangsa,” ujarnya.
Lestari mendorong semua pihak aktif membangun budaya antiperundungan di sekolah dan masyarakat demi mempersiapkan generasi muda yang lebih kuat dan berdaya saing.

