Ipemi Dukung Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru Pertumbuhan

Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (Ipemi) menilai pengembangan ekonomi kreatif (ekraf) yang didorong Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya sebagai motor baru penggerak ekonomi nasional.

“Ipemi mengapresiasi pengembangan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan baru yang dimulai dari daerah,” kata Ketua Umum Ipemi, Ingrid Kansil, dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Ingrid bersama Sekretaris Jenderal Ipemi, Nurwahidah Saleh, dan jajaran pengurus telah bertemu Menekraf di Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Jumat (2/5). Dalam pertemuan itu, Ipemi menyatakan siap bersinergi, mengingat mayoritas anggotanya bergerak di sektor fesyen, kuliner, dan kriya.

Ipemi juga menyambut baik delapan program unggulan yang dicanangkan Kemenekraf. Program-program tersebut mencakup penguatan data ekonomi kreatif, perbaikan regulasi serta kelembagaan, peningkatan kapabilitas pelaku ekraf, dan pengembangan infrastruktur pendukung. Selain itu, Kemenekraf mendorong sinergi lintas sektor melalui pendekatan hexahelix untuk memperkuat produk lokal, memperluas pangsa pasar domestik dan global, membuka akses pendanaan serta investasi, serta memperkuat ekosistem kekayaan intelektual sebagai fondasi keberlanjutan industri kreatif.

Dengan jaringan di 36 provinsi, 380 kabupaten/kota, dan 1.000 desa, Ipemi siap mendukung implementasi program tersebut.

Salah satu program yang dianggap paling strategis adalah Desa Kreatif, yang mengembangkan ekonomi dan sosial desa berbasis kreativitas, inovasi, serta kearifan lokal. Ingrid menyatakan kesiapan Ipemi menjadikan program ini sebagai program nasional.

“Ini bentuk kontribusi nyata menciptakan wirausaha baru dan mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Ingrid, peran Ipemi selaras dengan visi Astacita Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, khususnya dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas dan mengembangkan kewirausahaan.

Dalam audiensi, Ipemi juga memamerkan produk unggulan, seperti kain pewarna alam dan kriya berbahan tumbuhan dan daur ulang. Ingrid menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan ekraf.

“Di tengah isu iklim dan krisis ekologi, ekraf harus bergerak menuju ekonomi hijau: ramah lingkungan, hemat energi, dan bertanggung jawab secara ekologis,” tutupnya.

 

 

 

Penulis : Clarissa Setya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *