Kementan dan Dinas Atasi Antraks di Gunung Kidul Jelang Idul Adha

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, segera mengambil tindakan untuk menangani kasus antraks yang terkonfirmasi di wilayah tersebut, dengan menyiapkan langkah pengendalian dan vaksinasi menjelang Idul Adha 2025.

“Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementan telah menurunkan tim ke lapangan untuk investigasi dan penanganan intensif bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Gunung Kidul,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda, Kamis (10/4).

Ia menegaskan bahwa Kementan akan segera melakukan vaksinasi antraks di wilayah terdampak, khususnya Kecamatan Rongkop, Girisubo, dan daerah lain yang memiliki riwayat kasus antraks.

“Vaksinasi ini kami lakukan untuk mencegah ternak terjangkit Antraks. Harapannya ternak mendapatkan kekebalan tubuh optimal, terutama menghadapi meningkatnya lalu lintas hewan qurban,” ujarnya.

Untuk memperkuat respons lintas sektor, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul akan menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati terkait kewaspadaan terhadap antraks.

SE tersebut bertujuan menggalang dukungan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, dan tokoh masyarakat, guna mendorong kolaborasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian.

“SE Bupati ini menjadi pijakan bagi seluruh institusi untuk bergerak bersama mengantisipasi kejadian antraks di Gunung Kidul,” ujar Agung.

Menjelang Idul Adha, Agung menegaskan bahwa seluruh petugas kesehatan hewan di berbagai daerah telah disiagakan untuk mengawasi lalu lintas ternak, memantau kondisi hewan qurban, serta melakukan surveilans dan monitoring secara aktif.

Setiap laporan dugaan antraks atau penyakit hewan menular lainnya akan segera ditindaklanjuti.

Agung juga mengajak masyarakat, khususnya peternak, untuk aktif berperan dalam menjaga kesehatan ternak.

Ia menekankan bahwa kesadaran peternak terhadap pentingnya pakan dan air bersih, kebersihan kandang, serta vaksinasi rutin merupakan kunci utama pencegahan penyakit pada ternak.

“Peran masyarakat sangat menentukan keberhasilan upaya pengendalian antraks,” imbuh Agung.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Imron Suandy, menyampaikan bahwa kasus kematian ternak terjadi sejak 15 Februari hingga 27 Maret 2025, dengan total 23 ekor sapi dan 3 ekor kambing.

Kasus tersebut tersebar di Kelurahan Bohol dan Petir (Kecamatan Rongkop), serta Kelurahan Tileng (Kecamatan Girisubo).

“Hasil pengujian laboratorium di Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates menunjukkan ternak yang mati terkonfirmasi positif antraks,” ujar Imron.

Sebagai tindak lanjut, tim Ditjen PKH bersama DPKH Gunung Kidul telah melakukan disinfeksi kandang dan lingkungan, pemberian antibiotik profilaksis, serta pendistribusian obat dan vitamin bagi ternak di zona merah, yakni Kelurahan Bohol dan Tileng.

“Sosialisasi juga digencarkan agar masyarakat tidak menyembelih ternak yang sakit atau menjual ternak yang mati, serta melaporkan gejala penyakit kepada petugas kesehatan hewan setempat,” kata Imron.

 

 

Penulis : Clarissa Setya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *