KKP Perkuat Peran Sulawesi Utara sebagai Pusat Hilirisasi dan Ekspor Perikanan Timur Indonesia

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat peran Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai pusat hilirisasi dan ekspor perikanan dari kawasan timur Indonesia.

“Sepanjang 2024, ekspor perikanan Sulut mencatat nilai signifikan sebesar 172,5 juta dolar AS dengan volume mencapai 27,7 juta kilogram,” ujar Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Tornanda Syaifullah, Selasa (15/4).

Komoditas utama ekspor didominasi oleh Tuna, Cakalang, dan Tongkol (TCT) dengan nilai mencapai 165 juta dolar AS, atau 95 persen dari total ekspor. Produk tersebut telah melalui proses pengolahan seperti loin, fillet, dan beku siap saji, mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi KKP.

Pasar ekspor utama antara lain Amerika Serikat (54,8 juta dolar AS), Timur Tengah (38 juta dolar AS), Jepang (25,1 juta dolar AS), dan negara ASEAN (17 juta dolar AS).

Tornanda menegaskan, hilirisasi tidak hanya ditujukan untuk mendorong ekspor, tetapi juga mendukung program prioritas nasional seperti makan bergizi gratis dan ketahanan pangan.

Ia menyebut rantai dingin sebagai elemen kunci dalam strategi hilirisasi. Sistem ini memastikan mutu dan daya saing produk dari tahap produksi hingga pasar global. “Penerapan rantai dingin terintegrasi, mulai dari kapal penangkap, pelabuhan, unit pengolahan ikan (UPI), hingga cold storage dan transportasi ekspor, menjadi tulang punggung hilirisasi di Sulut,” jelasnya.

Selain itu, KKP juga memperkuat produktivitas UPI melalui fasilitasi sarana pengolahan dan peningkatan kapasitas pelaku usaha. Saat ini terdapat 68 UPI skala menengah dan besar di Sulut, mayoritas berada di Kota Bitung.

Langkah lainnya mencakup revitalisasi sistem rantai dingin, pengembangan cold storage, distribusi berbasis logistik efisien, promosi dagang, perluasan akses pasar, pendampingan usaha, serta penguatan kemitraan koperasi nelayan dan UMKM pengolahan.

“Hilirisasi di Sulawesi Utara akan terus diperkuat agar sektor kelautan dan perikanan menjadi pilar utama pembangunan nasional berbasis sumber daya laut,” tegas Tornanda.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mendorong peningkatan produksi dan kualitas perikanan melalui program ekonomi biru guna memperkuat posisi produk Indonesia di pasar global.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *