Mentan Targetkan Produktivitas Gula Kembali Sejaya Era Belanda

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmennya mengembalikan kejayaan produksi gula nasional, seperti pada masa penjajahan Belanda.

Amran mengatakan produktivitas tinggi saat itu dicapai berkat disiplin dan manajemen ketat, yang bisa diadopsi kembali dengan pendekatan modern dan konsisten.

“Zaman Belanda produksi gula 10 ton per hektare. Kenapa? Karena ada tekanan, disiplin, dan ketegasan,” ujarnya, Rabu (25/6).

Saat ini, produktivitas gula Indonesia hanya sekitar 4 ton per hektare, namun Amran optimistis bisa ditingkatkan hingga 10–14 ton per hektare dengan strategi yang tepat.

Ia menekankan, Indonesia pernah menjadi produsen gula terbesar kedua di dunia, dan kini saatnya mengembalikan kejayaan itu melalui semangat baru dan program swasembada dalam tiga tahun ke depan.

Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk mewujudkan swasembada gula nasional melalui dua pendekatan utama: optimalisasi lahan eksisting dan ekstensifikasi lahan baru secara terukur.

Pertama, dilakukan optimalisasi terhadap 500 ribu hektare lahan tebu yang sudah ada, dengan fokus pada peningkatan produktivitas melalui perbaikan benih, pola tanam, manajemen lahan, serta tata kelola pertanian yang lebih efisien. Pendekatan ini mengedepankan pemanfaatan maksimal tanpa harus membuka lahan baru secara besar-besaran.

Kedua, pemerintah juga menargetkan pengembangan lahan baru (ekstensifikasi) seluas 200 hingga 500 ribu hektare di wilayah potensial. Langkah ini diarahkan untuk memperluas cakupan budidaya tebu secara berkelanjutan dan meningkatkan kapasitas produksi nasional.

Melalui kombinasi dua strategi tersebut, pemerintah optimistis dapat mendorong Indonesia menuju kemandirian gula dalam tiga tahun ke depan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Ini harus dijalankan konsisten tiap tahun. Dalam tiga tahun, Indonesia bisa swasembada gula,” tegas Amran.

Sebelumnya, saat kunjungan kerja bersama Wapres Gibran Rakabuming Raka dalam acara panen dan penanaman tebu di Kebun Tebu Jolondoro, Banyuwangi (Senin, 24/6), Amran menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat swasembada melalui pembenahan menyeluruh dari hulu ke hilir.

Pembenahan dilakukan mulai dari benih, pola tanam, hilirisasi, hingga sistem penjualan, dengan tujuan utama: petani harus untung.

“Kalau petani rugi, mereka jera menanam,” ujarnya.

Kementerian Pertanian telah merancang Roadmap Swasembada Gula Nasional sebagai arah kebijakan jangka menengah untuk mencapai kemandirian di sektor gula. Melalui roadmap ini, pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028, yang mencakup pemenuhan kebutuhan gula rumah tangga tanpa mengandalkan impor.

Selanjutnya, pada tahun 2030, Indonesia ditargetkan mencapai swasembada total, termasuk untuk kebutuhan industri dan pengembangan energi terbarukan berbasis bioetanol.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar membangun ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan, dengan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri dan memberdayakan petani tebu secara menyeluruh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *