Wamendag Dorong UMKM Manfaatkan Perjanjian Dagang Internasional

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mendorong dunia usaha, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk aktif memanfaatkan peluang dari perjanjian dagang internasional di tengah dinamika globalisasi.

“Meski dinamika geopolitik saat ini mendorong globalisasi ke arah multipolar, Indonesia tetap konsisten membuka diri dan menjalin interaksi dengan dunia, sejalan dengan prinsip politik luar negeri kita,” ujar Dyah Roro dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (4/10).

Dalam forum Milken Institute Asia Summit 2025 bertema “Can Globalization Be Great Again? Doing Business in a Changing World” di Singapura, Kamis (2/10), Roro menekankan strategi Indonesia dalam memperluas akses pasar global sebagai bagian dari adaptasi terhadap tantangan globalisasi.

“Indonesia saat ini telah memperluas akses pasar dengan melakukan 24 perjanjian dagang dengan 30 negara, salah satunya melalui Indonesia-EU CEPA, Indonesia-Kanada CEPA, serta Indonesia-Peru CEPA,” jelasnya.

Selain itu, Indonesia juga menjajaki pasar nontradisional di Afrika, seperti Tunisia dan Mozambik, untuk memperluas jangkauan ekspor.

Roro menyampaikan, nilai ekspor Indonesia periode Januari–Agustus 2025 naik 7,72 persen menjadi 185,13 miliar dolar AS dibanding periode sama tahun lalu. Surplus perdagangan juga tercatat sebesar 29,14 miliar dolar AS, mempertahankan tren surplus selama 64 bulan berturut-turut.

“Tidak hanya berfokus pada perluasan pasar, kami juga mendorong ekspor jasa di sektor ritel, e-commerce, logistik, perawatan dan keperawatan, perbankan, pariwisata, kuliner, desain, fesyen, dan konstruksi,” ujarnya.

Ia menegaskan, diversifikasi ekspor menjadi langkah penting agar perekonomian tidak bergantung pada komoditas barang. Pendekatan itu, lanjut Roro, sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, serta penguatan sumber daya manusia.

“Fokus kebijakan pemerintah saat ini adalah hilirisasi di sektor industri, perkebunan, dan perikanan. Hal ini dapat menjadi multiplier effect lewat penciptaan lapangan kerja dan transfer teknologi,” kata Roro.

Ia juga mengimbau pelaku usaha agar terus berinovasi dan memenuhi standar internasional untuk memperkuat daya saing.

“Pelaku usaha bersama pemerintah harus membangun iklim bisnis yang baik agar semakin menarik investasi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *