Menlu: Penugasan ISF Tak Terkait Pengakuan Diplomatik dengan Israel
Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) tidak berkaitan dengan pengakuan hubungan diplomatik dengan Israel. “Ini kan bukan kaitannya dalam dengan pengakuan ada hubungan atau tidak ya. Ini adalah pasukan yang ditugaskan untuk yang mendapatkan mandat untuk menjaga perdamaian, terdiri dari berbagai unsur yang tugasnya intinya adalah menjaga situasi,” kata Sugiono di Washington DC.
Ia menjelaskan, negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) yang terlibat dalam ISF memperoleh mandat menjaga keamanan di Palestina, dengan ruang menyampaikan batasan pengerahan (national caveat). Indonesia, tegasnya, tidak akan melakukan operasi militer maupun pelucutan senjata. “Yang kita lakukan adalah menjaga masyarakat sipil di kedua belah pihak, kemudian terlibat dalam upaya-upaya kemanusiaan yang ada di sana dan tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan rule of engagement yang bisa kita lakukan sebagai pasukan apabila kita diserang dalam rangka mempertahankan diri,” ujarnya.
Sugiono menambahkan, posisi Wakil Komandan ISF merupakan penghargaan atas rekam jejak TNI dalam misi perdamaian. “Karena pasukan Indonesia juga merupakan yang terbanyak di sana, maka deputy commander operasi ini juga merupakan sesuatu penghormatan dan penghargaan terhadap track record Indonesia. Kemudian reputasi prajurit-prajurit Indonesia di berbagai medan penjagaan perdamaian,” katanya.
Dalam pertemuan Board of Peace di Washington DC, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kesiapan Indonesia mengirim 8.000 prajurit TNI untuk bergabung dengan ISF di Gaza. “Gencatan senjata (di Gaza) merupakan capaian yang riil terjadi. Kami memuji capaian ini dan untuk itu kami menegaskan kembali komitmen untuk berkontribusi mengirimkan prajurit kami dalam jumlah yang signifikan sebanyak 8.000, bahkan bisa lebih jika dibutuhkan,” ujar Prabowo.
Sementara itu, Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers memproyeksikan sekitar 20.000 tentara dan 12.000 polisi akan bertugas memulihkan situasi pascaperang di Gaza, dengan Rafah sebagai tujuan awal pengerahan pasukan.

